Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, ada yang percaya hidup tak berhenti di liang. Di balik debu terbentang taman atau api, cahaya atau bayangan ruang tempat jiwa memetik buah dari benih yang ditanam di bumi.
Hidup adalah perjalanan moral; setiap langkah dan niat menjadi arah bagi nasib abadi. Surga dan neraka bukan sekadar tempat, melainkan pantulan dari amal perbuatan.
Ada pula yang melihat hidup sebagai pusaran tanpa awal dan akhir. Jiwa bukan garis lurus, melainkan lingkaran: lahir, tumbuh, gugur, lalu mekar kembali dalam wujud lain.
Mereka menyebutnya samsara arus kelahiran dan kematian yang terus berputar, hingga kesadaran mencapai kebebasan murni, moksha, ketika diri larut dalam samudra tak bernama.
Bagi para pejalan sunyi kaum sufi dan para mistikus akhirat bukanlah negeri jauh di balik langit. Ia dekat, tersembunyi di balik kelopak kesadaran.
Kematian hanyalah tabir yang tersingkap; jiwa kembali ke Rumah Asalnya, ke pelukan Sang Kekasih, tempat ia tak pernah benar-benar pergi. Hidup dan mati hanyalah tarikan napas dari satu cinta abadi.
Sementara para filsuf dan pencinta kebijaksanaan berkata: mungkin yang hidup bukanlah diri kita, melainkan jejak dari apa yang telah kita berikan.
Cinta yang kita tabur, gagasan yang kita nyalakan, kemurahan yang kita wariskan semuanya terus berdenyut dalam dada orang. Kita tiada, tapi gemanya masih bernyanyi di udara.
Di ujung rasionalitas, ilmu pengetahuan berdiri hening, menatap batasnya sendiri. Ia berkata: ketika otak berhenti, kesadaran padam. Namun bahkan para penjaga logika tahu energi tak pernah musnah, hanya berubah bentuk.
Mungkin kesadaran pun demikian: berpindah seperti cahaya yang mencari medium baru, menembus ruang yang belum dinamai.
Maka siapakah yang tahu apa yang menanti purna hidup? Mungkin semuanya benar, mungkin semuanya hanya bayangan dari satu kenyataan yang tak terlukis: bahwa tiada yang benar-benar berakhir hanya berganti rupa dalam arus cinta yang sama.
Hidup telah memberi bocorannya: setiap malam melahirkan fajar, setiap gugur menumbuhkan yang baru.
Barangkali kematian hanyalah helaan napas semesta dan cinta, daya yang menuntun segala yang fana pulang ke sumber cahaya.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Cahaya Kebenaran (Bagian 2006)
Meneguhkan Peran Pesantren di Era Modern Lewat Semangat Hari Santri
Menebar Cahaya Kebaikan dari Pesantren untuk Negeri
Hiling Hati Sebelum ke Tanah Suci, 150 Jamaah Ikuti Manasik Umroh Agifah Tour & Travel
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Kontribusi Pesantren, Kiai dan Santri dalam Membangun Negeri (Bagian 10)
Diskusi Publik Mendesak Kepastian Hukum Atas Penangkapan Aktivis Demonstran di Cianjur
Mutiara Pagi: Dinding Pemisah (Bagian 2007)
Melarikan Diri ke Ketinggian, Menikmati Hawa Sejuk Abadi di Puncak Cianjur
Bubur Kacang Hijau, Penyelamat Hangat di Tengah Dinginnya Puncak
Gunung Padang: Punden Berundak Raksasa Cianjur, Kontroversi Usia yang Mengguncang Sejarah