Journalnusantara.com, Cianjur – Puncak, baik di sisi Bogor maupun Cianjur, selalu identik dengan udara dingin yang menusuk. Namun, udara sejuk ini justru menjadi latar sempurna untuk menikmati sajian kuliner hangat. Salah satu hidangan legendaris yang menjadi favorit wisatawan dan penduduk lokal adalah bubur kacang hijau.
Di sepanjang jalan raya Puncak Cianjur, terutama di kawasan Cipanas, Cipendawa, hingga perbatasan, kedai-kedai sederhana maupun warung pinggir jalan yang menjual bubur kacang hijau dan ketan hitam mudah ditemui.
Kehadiran kuliner ini bukan sekadar jajanan, melainkan ritual wajib untuk menghangatkan diri.
Bubur kacang hijau khas Puncak disajikan dalam keadaan panas mengepul. Tekstur kacang yang lembut dipadu dengan kuah santan yang gurih dan legit, seringkali diperkaya dengan aroma pandan dan jahe, menciptakan perpaduan rasa yang sempurna.
Tambahan irisan roti tawar yang lembut atau ketan hitam yang manis semakin menambah kaya cita rasa.
Banyak pedagang bubur di Puncak yang buka hingga larut malam atau bahkan 24 jam, menjadikannya penolong sejati saat suhu udara anjlok di bawah 20 derajat Celsius.
Salah satu lokasi yang kerap dicari adalah warung-warung di dekat area perkemahan atau persimpangan utama, yang menawarkan pemandangan malam pegunungan sembari menikmati hidangan penutup yang mengenyangkan.
Sebuah mangkuk bubur kacang hijau hangat di Puncak bukan hanya tentang makanan, melainkan tentang pengalaman.
Hangatnya hidangan ini seolah menjadi pelukan sederhana yang meredam dinginnya malam. Kelezatan bubur ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari memori berwisata di Cianjur, membuktikan bahwa kenikmatan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan.
Bubur kacang hijau adalah simbol kehangatan dan kenyamanan di tengah pesona alam Puncak yang dingin.
Artikel Terkait
Membaca Langkah Substantif Presiden, Reformasi Polri Berjalan Sunyi Tanpa Janji Komite Formal
Indonesia-Afrika Selatan Perkuat Hubungan, Presiden Prabowo Sambut Hangat Kunjungan Kenegaraan Presiden Ramaphosa
Hari Santri, BEM PTNU Jabar Desak Pemprov Segera Cairkan Dana Hibah Pesantren dan Masjid Sesuai Perda
Mutiara Pagi: Cahaya Kebenaran (Bagian 2006)
Meneguhkan Peran Pesantren di Era Modern Lewat Semangat Hari Santri
Menebar Cahaya Kebaikan dari Pesantren untuk Negeri
Hiling Hati Sebelum ke Tanah Suci, 150 Jamaah Ikuti Manasik Umroh Agifah Tour & Travel
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Kontribusi Pesantren, Kiai dan Santri dalam Membangun Negeri (Bagian 10)
Diskusi Publik Mendesak Kepastian Hukum Atas Penangkapan Aktivis Demonstran di Cianjur
Mutiara Pagi: Dinding Pemisah (Bagian 2007)