Ada dinding pemisah
Antara manusia dan kemuliaan
Jika tidak mampu mengubah
Dapat menimbulkan persoalan
“Membenarkan yang biasa,
bukan membiasakan yang benar”
Hidup dalam lingkaran rutinitas
di mana salah dianggap pantas
Batinnya tahu
Tapi hanya diam
Dengan mengangguk setuju
Sambil berpura-pura paham
Dalam dua wajah itu
Perlahan nurani jadi buntu
Tak mampu membedakan
Antara kesalahan dan kebenaran
Ada dinding pemisah
Yang diciptakan sendiri
dirawat dengan kebiasaan
dengan menutupi kejujuran
Bicara tentang cahaya,
namun takut membuka jendela,
Karena di balik tirai kebiasaan,
ada wajah yang penuh kepalsuan
Malang, 24 Oktober 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Membaca Langkah Substantif Presiden, Reformasi Polri Berjalan Sunyi Tanpa Janji Komite Formal
Memperkenalkan Kembali Tokoh Bangsa, Keturunan Eyang Kyai Hasan Maolani Kumpul di Cianjur
Indonesia-Afrika Selatan Perkuat Hubungan, Presiden Prabowo Sambut Hangat Kunjungan Kenegaraan Presiden Ramaphosa
Hari Santri, BEM PTNU Jabar Desak Pemprov Segera Cairkan Dana Hibah Pesantren dan Masjid Sesuai Perda
Mutiara Pagi: Cahaya Kebenaran (Bagian 2006)
Meneguhkan Peran Pesantren di Era Modern Lewat Semangat Hari Santri
Menebar Cahaya Kebaikan dari Pesantren untuk Negeri
Hiling Hati Sebelum ke Tanah Suci, 150 Jamaah Ikuti Manasik Umroh Agifah Tour & Travel
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Kontribusi Pesantren, Kiai dan Santri dalam Membangun Negeri (Bagian 10)
Diskusi Publik Mendesak Kepastian Hukum Atas Penangkapan Aktivis Demonstran di Cianjur