Ia tak pernah mengangkat senjata,
hanya menyampaikan apa adanya
Tapi bagi mereka yang gemar berdusta,
kebenaran dianggap peluru berbahaya
Mereka mengira, ia menyerang
padahal hanya menyingkap bayang
Sehingga kebenaran terasa seperti luka,
akibat terlalu lama terbiasa menutupinya
Ia tidak membawa panah
Tapi membawa cermin
Agar wajah-wajah yang bermasalah
Tidak bersembunyi di balik orang lain
Sehingga bisa menatap dirinya sendiri
Dengan sejumlah dusta yang dipelihara
Seperti sungai di musim semi
Airnya jernih ketika tiba di muara
Ia tak berharap menang,
yang diinginkan hanyalah terang
Agar nurani yang mulai sekarat,
Tak tertutup dusta yang dijaga rapat
Mereka yang merasa tersakiti,
oleh cahaya kebenaran
Mungkin karena jendela hati,
terlalu lama tertutup debu kebohongan
Malang, 23 Oktober 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Adab dan Khidmah, Jembatan Ruhani Santri Menuju Cahaya Ilmu
Menjaga Marwah Santri Menuju Indonesia Emas, PKB Cianjur Gelar Silaturahmi Akbar Pesantren
Tolak Pembusukan Kiai dan Pesantren, BEM PTNU Se-Nusantara Geruduk TRANS7 dengan Tiga Tuntutan Mendesak
Mutiara Pagi: Kegagalan (Bagian 2005)
Misbah Abdul Rouf: Upgrading Merupakan Ikhtiar Awal Organisasi untuk Menjadikan Pengurus IPNU yang Tidak Prematur
Membaca Langkah Substantif Presiden, Reformasi Polri Berjalan Sunyi Tanpa Janji Komite Formal
PMII STAI Al-Azhary Lahirkan Kader Baru, IKA PMII Cianjur: Jangan Pernah Mundur dari Pergerakan
Memperkenalkan Kembali Tokoh Bangsa, Keturunan Eyang Kyai Hasan Maolani Kumpul di Cianjur
Indonesia-Afrika Selatan Perkuat Hubungan, Presiden Prabowo Sambut Hangat Kunjungan Kenegaraan Presiden Ramaphosa
Hari Santri, BEM PTNU Jabar Desak Pemprov Segera Cairkan Dana Hibah Pesantren dan Masjid Sesuai Perda