Paradoks Purbaya: Akankah Dia Tetap Tak Terbendung?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 28 Oktober 2025 | 06:36 WIB

Oleh: Nanang Gojali

Kehadiran Purbaya Yudhi Sadewa dalam kabinet Prabowo menjadi paradoks yang memikat perhatian publik: teknokrat yang mengusung transparansi justru masuk ke jantung kekuasaan yang penuh kabut kepentingan.

Belum genap seratus hari menjabat, ia sudah mengganggu kenyamanan banyak pihak. Dari sudut pandang sufistik, gangguan itulah pertanda hadirnya cahaya pada ruang yang telah lama nyaman dalam gelap.

Ia ingin membenahi subsidi, mengunci kebocoran anggaran, menghentikan pemborosan proyek mercusuar; tetapi justru di situlah badai dimulai. Karena setiap cahaya yang dinyalakan akan membuat kegelapan merasa terancam.

Gemetar Struktur Lama: Ketika Uang Rakyat Dipertaruhkan

Kontroversi Purbaya bukan soal gaya bicara yang keras, tetapi isi dari kata-katanya:

"Siapa pun yang maling uang rakyat, saya sikat. Saya tidak bisa disogok.”

Dalam tradisi sufi, keberanian seperti itu adalah bentuk sidq; kejujuran eksistensial yang menampakkan dirinya dalam tindakan. Namun sidq selalu memukul wajah kemunafikan.

Purbaya memotong proyek Whoosh (yang disebut-sebut sebagai "barang busuk sejak awal"), merombak alokasi anggaran dan memaksa investor patuh pada moral fiskal. Ia tidak kompromi; dan karena itulah ia menjadi musuh bagi mereka yang menganggap negara sebagai ladang pribadi.

Konflik pun tak terhindarkan:

"Anda memakai lambang menteri, tapi tidak ada koordinasi yang bagus. Tidak ada gunanya!”

Serangan langsung dari kolega kabinet ini, di depan publik, mengandung pesan bahwa perang kepentingan telah meletup di permukaan.

Namun Purbaya membalas dengan kalimat yang lebih dalam:

"Saya hanya bertanggung jawab kepada RI-1.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X