Hati yang Tertawan Dunia, Jiwa yang Kehilangan Bekal Akhirat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 17 September 2025 | 20:00 WIB
Title Taubat dan Kesehatan Mental, Jalan Spiritual untuk Jiwa yang Tenang
Title Taubat dan Kesehatan Mental, Jalan Spiritual untuk Jiwa yang Tenang

Journalnusantara.com - Sering kali kita menganggap kemiskinan sebagai ancaman terbesar dalam hidup, seolah-olah kelaparan dan kekosongan materi akan merenggut ketenangan. Padahal, Rasulullah ﷺ justru mengkhawatirkan hal lain.

Beliau mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukanlah kefakiran, melainkan ketika dunia dibentangkan seluas-luasnya di hadapan kita.

Dunia ini bagaikan permadani indah yang berkilau, namun di balik kilauannya, tersembunyi jebakan yang dapat meninabobokan jiwa dan menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Demi Allah! Bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Tetapi aku khawatir apabila dunia dibentangkan atas kalian sebagaimana dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka." (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Betapa banyak manusia yang mengejar dunia layaknya mengejar bayangan. Semakin dikejar, semakin ia menjauh. Dunia bagaikan air laut yang asin.

Setiap kali kita teguk untuk menghilangkan dahaga, ia justru menambah haus dan melemahkan jiwa. Allah Ta’ala telah memperingatkan hal ini dalam firman-Nya,

"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam memperbanyak harta dan anak; seperti hujan yang tanam-tanamannya membuat para petani kagum, kemudian tanaman itu menjadi kering lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian hancur berderai." (QS. al-Hadīd: 20)

Para ulama juga memberikan pandangan yang mendalam mengenai hal ini. Imam al-Ghazālī berkata, "Dunia adalah ladang akhirat.

Siapa yang menanam kebaikan di dalamnya akan menuai pahala kelak, dan siapa yang menanam keburukan akan menuai penyesalan."

Senada dengan itu, Al-Junaid al-Baghdādī menambahkan, "Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan."

Dunia ini sesungguhnya hanyalah cermin yang berdebu. Ia hanya memantulkan sedikit kilauan cahaya, tetapi tidak pernah menampakkan hakikat sejati.

Hakikat itu hanya ada pada Allah dan pada pertemuan dengan-Nya. Kita memang boleh menggenggam dunia, tetapi jangan biarkan dunia ini memenuhi rongga hati kita.

Sama seperti burung yang hinggap di ranting pohon hanya sejenak untuk melepas lelah, begitu pula kita hidup di dunia ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB

Menenun Kebangkitan Adab

Rabu, 20 Mei 2026 | 18:20 WIB
X