Journalnusantara.com - Sering kali kita menganggap kemiskinan sebagai ancaman terbesar dalam hidup, seolah-olah kelaparan dan kekosongan materi akan merenggut ketenangan. Padahal, Rasulullah ﷺ justru mengkhawatirkan hal lain.
Beliau mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukanlah kefakiran, melainkan ketika dunia dibentangkan seluas-luasnya di hadapan kita.
Dunia ini bagaikan permadani indah yang berkilau, namun di balik kilauannya, tersembunyi jebakan yang dapat meninabobokan jiwa dan menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran.
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Demi Allah! Bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Tetapi aku khawatir apabila dunia dibentangkan atas kalian sebagaimana dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka." (HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Betapa banyak manusia yang mengejar dunia layaknya mengejar bayangan. Semakin dikejar, semakin ia menjauh. Dunia bagaikan air laut yang asin.
Setiap kali kita teguk untuk menghilangkan dahaga, ia justru menambah haus dan melemahkan jiwa. Allah Ta’ala telah memperingatkan hal ini dalam firman-Nya,
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam memperbanyak harta dan anak; seperti hujan yang tanam-tanamannya membuat para petani kagum, kemudian tanaman itu menjadi kering lalu kamu lihat warnanya kuning, kemudian hancur berderai." (QS. al-Hadīd: 20)
Para ulama juga memberikan pandangan yang mendalam mengenai hal ini. Imam al-Ghazālī berkata, "Dunia adalah ladang akhirat.
Siapa yang menanam kebaikan di dalamnya akan menuai pahala kelak, dan siapa yang menanam keburukan akan menuai penyesalan."
Senada dengan itu, Al-Junaid al-Baghdādī menambahkan, "Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan."
Dunia ini sesungguhnya hanyalah cermin yang berdebu. Ia hanya memantulkan sedikit kilauan cahaya, tetapi tidak pernah menampakkan hakikat sejati.
Hakikat itu hanya ada pada Allah dan pada pertemuan dengan-Nya. Kita memang boleh menggenggam dunia, tetapi jangan biarkan dunia ini memenuhi rongga hati kita.
Sama seperti burung yang hinggap di ranting pohon hanya sejenak untuk melepas lelah, begitu pula kita hidup di dunia ini.
Artikel Terkait
Kisah Inspiratif Kader IPNU Asal Cianjur, Luthfi Muhammad Fikri Tapaki Jejak Dakwah Global
Penutupan KKN UNPI 2025, Kelompok Desa Cibarebeg Raih Juara Pertama
Teladan Moral Rais Aam PBNU Jadi Rujukan BEM-PTNU dalam Kasus Dana Haji
Bisnis Haram: Korupsi dan Suap, Luka yang Menggerogoti Bangsa
Politik Autentik
Memutus Mata Rantai Kemiskinan dengan Program Indonesia Pintar
Mutiara Pagi: Bahasa yang Amanah (Bagian 1964)
Program Indonesia Pintar
Mutiara Pagi: Bahasa yang Benar (Bagian 1965)
Cinta vs Nafsu: Dua Jalan Hidup yang Berbeda