Ngalih, Ngamuk, Ngobong: Falsafah Jawa di Balik Kerusuhan Jakarta 29 Agustus 2025

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 1 September 2025 | 16:48 WIB
Oleh: Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn. Advokat/Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Oleh: Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn. Advokat/Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)

Bahkan, bisa jadi pihak yang sedang berkuasa untuk melegitimasi penyingkiran hegemoni sipil. (Penting untuk diingat bahwa institusi seperti Polisi, DPR, dan DPRD merupakan bagian dari hegemoni sipil.)

Terlepas dari siapa yang benar dan salah, kekerasan harus segera dihentikan. Tindakan ini tidak akan membawa manfaat bagi bangsa, justru akan membawa pada keterpurukan yang lebih dalam. Hal ini justru yang diinginkan oleh pihak-pihak yang ingin menguasai sumber daya alam Indonesia.

"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X