Oleh: Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn.
Advokat/Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Falsafah Jawa "Ngalah, ngalih, ngamuk, ngobong" (mengalah, menyingkir, mengamuk, membakar) menggambarkan empat tahapan dalam menghadapi permasalahan yang tidak adil.
Ngalah: Mengalah, pasrah, dan berkompromi.
Ngalih: Menyingkir atau meninggalkan situasi yang tidak menguntungkan.
Ngamuk: Melawan dan tidak lagi berkompromi.
Ngobong: Membakar simbol-simbol kebencian yang sudah tercipta.
Urutan ini menunjukkan proses pengambilan keputusan yang bijaksana. Seseorang harus mencoba mengalah terlebih dahulu saat diperlakukan tidak adil, lalu menyingkir untuk menghindari konflik. Namun, jika terus diganggu, langkah terakhir adalah mengamuk, yang bisa berujung pada tindakan ekstrem seperti membakar. Contohnya terlihat pada pedagang loak di Solo yang melawan penggusuran.
Mungkinkah Kerusuhan Massal 29 Agustus 2025 adalah "Ngamuk"?
Pada Jumat, 29 Agustus 2025, kerusuhan massa terjadi di Jakarta. Awalnya, protes dipicu oleh usulan kenaikan gaji dan tunjangan anggota DPR. Protes ini juga didorong oleh kekecewaan publik terhadap kesenjangan ekonomi dan kenaikan biaya hidup.
Kerusuhan meluas setelah Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, tewas ditabrak kendaraan taktis Brimob. Kematiannya memicu gelombang protes besar dari rekan-rekan ojol dan serikat mahasiswa.
Lalu, apakah amuk massa ini murni protes publik? Atau ada "penumpang gelap" dengan agenda tertentu? Siapa dalangnya? Ada beberapa dugaan:
Pihak-pihak yang terganggu oleh kebijakan Presiden Prabowo dalam menegakkan hukum dan memberantas korupsi.
Kelompok dari mantan penguasa.
Pihak yang belum mendapatkan kekuasaan.
Artikel Terkait
Mahasiswa KKN Bhakti Kencana University Gelar Penyuluhan HIV/AIDS dan Kesehatan Reproduksi di Bandung
Jangan Pernah Remehkan Kemarahan Komunal Rakyat (1)
Koalisi Rakyat Cianjur Tekankan Pentingnya Keadilan Bersama
Muhammad Fikri, Duta Pelajar Juara Indonesia Nasional Siap Berkontribusi untuk Bangsa
Jangan Pernah Remehkan Kemarahan Komunal Rakyat (2)
Mengapa Amuk Massa?
PBNU dan BEM PTNU Sepakat Kawal Aspirasi Rakyat
Mutiara Pagi: Cinta yang Sama (Bagian 1949)
Mutiara Pagi: Doa untuk Negeri (Bagian 1950)
Pernyataan Sikap Aktivis Perempuan Cianjur Terhadap Kematian Affan Kurniawan