Rasulullah SAW.bersabda:
“/إذا رأيتم المداحين فاحثوا في وجوههم التراب»
"Apabila kalian melihat orang-orang yang gemar memuji (berlebihan), taburkanlah tanah ke wajah mereka."
(HR. Muslim)
Ini bukan ajakan untuk merendahkan, tetapi peringatan agar kita waspada terhadap pujian yang menjebak, yang tidak lagi menjadi ekspresi ketulusan, melainkan alat pengendali atau penjilat.
*Pujian sebagai Fitrah yang Dimuliakan*
Allah SAW. sendiri menyebut bahwa pujian adalah bentuk penghargaan kepada orang-orang beriman:
وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa bagi mereka pahala yang besar.”
(QS. Al-Isra: 9)
Pujian, ketika lahir dari keadilan dan cinta terhadap kebaikan, menjadi bentuk penghormatan terhadap akhlak dan amal. Bahkan Rasulullah SAW.sendiri sering memuji para sahabatnya, seperti:
“نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ"
"Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah, jika saja ia shalat malam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa pujian bisa menjadi dorongan spiritual, asalkan tidak memabukkan dan melahirkan penyakit hati.
*Bahaya Pujian: Saat Fitrah Berubah Menjadi Fitnah*
Namun pujian adalah candu yang memabukkan jika tak dijaga. Betapa banyak orang berubah bukan karena tekanan, tapi karena sanjungan.
Mereka mulai berpura-pura, demi terus berada dalam panggung yang dipenuhi sorak-sorai. Bahkan rela menjual prinsip, hanya agar terus jadi pusat perhatian.
Katena itu, Pujian bisa melahirkan antara lain:
*Keangkuhan: merasa paling baik, paling benar, dan menolak nasihat.
*Kemunafikan sosial: hanya mendekati orang yang memuliakan, menjauh dari mereka yang jujur tapi tak menyanjung.
*Eksklusivitas: memilih-milih sahabat karena pujian, bukan ketulusan.
*Ketergantungan emosional: hidup dalam bayang-bayang validasi orang lain.
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata:
“الهلاك في اثنين: الكبر والإعجاب بالنفس"
"Kebinasaan itu terletak pada dua hal: kesombongan dan kekaguman terhadap diri sendiri."
(Syu’ab al-Iman )
Artikel Terkait
Hujan Deras dan Dampaknya Terhadap Aktivitas Masyarakat
Kapal Layar, Transportasi Tradisional yang Tetap Menawan
Air dan Kehidupan, Sumber Utama Kelangsungan Makhluk Hidup
Peradaban Pasar Masa ke Masa: Sonobudoyo Gelar Abhinaya, Mahasiswa UNISA Yogyakarta Berbagi Pengalaman
Mutiara Pagi: Takut Perbedaan (Bagian 1902)
Robot Polisi dan Masa Depan Penegakan Hukum: Refleksi Kritis atas Uji Coba Tanpa Anggaran Negara
Trump: Indonesia Tak Penting?
Diduga Ada Kejanggalan, Seleksi Direktur Teknik Perumdam Tirta Mukti Cianjur Dipertanyakan
Dari Buku untuk Desa: Ajak Wujudkan Pojok Baca di Mekarwangi
KKN Kelompok 9 STAI Al-Azhary Resmi Diterima di Desa Sukajadi: Siap Bersinergi Tebarkan Manfaat