Angin dari gunung membawa kabar,
bukan tentang badai,
tapi hati yang tak sanggup membuka jendela
Ia takut cahaya akan menyilaukan luka-lukanya
yang disembunyikan di balik kebohongannya
Ketika ketakutan dipeluk seperti anak kandung,
orang mulai menuding bayang-bayang sendiri
Setiap suara berbeda disangka hujatan
Setiap pertanyaan dianggap pembangkangan
Padahal semua itu hanya tangisan kepedulian
Di desa tempat embun mengaji pada daun,
aku diajari ibu:
jangan cepat menghakimi
Sebab kebenaran,
tidak selalu memakai baju yang kita suka
Kadang ia datang telanjang,
dibungkam oleh malu dan prasangka
Maka kutuliskan ini pada langit yang sabar:
jika engkau takut pada perbedaan,
engkau hanya akan melahirkan benteng,
bukan jembatan
Sedangkan orang-orang yang tinggal di balik tembok,
lama-lama hanya pandai melempar batu,
tapi lupa cara bersalaman
Malang, 15 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Lomba RT-RW, Ajang Seru untuk Eratkan Warga Segala Usia
Mutiara Pagi: Masih Banyak Pintu (Bagian 1900)
Paradoks Pesta Raya Dangdut di Cianjur
Bank BSI KCP Cianjur dan Klinik Harapan Sehat Gelar CFD Peduli Berupa Santunan Yatim dan Pengobatan Gratis
Mutiara Pagi: Tuhan Tak Pernah Ingkar (Bagian 1901)
Dampak Perubahan Cuaca Terhadap Kehidupan Sehari-hari
Hujan Deras dan Dampaknya Terhadap Aktivitas Masyarakat
Kapal Layar, Transportasi Tradisional yang Tetap Menawan
Air dan Kehidupan, Sumber Utama Kelangsungan Makhluk Hidup
Peradaban Pasar Masa ke Masa: Sonobudoyo Gelar Abhinaya, Mahasiswa UNISA Yogyakarta Berbagi Pengalaman