Di ladang doa,
yang kuyup air mata
Aku menanam harapan
layaknya seorang nelayan
Juga menabur benih
seperti seorang petani
dengan hati lapang
percaya bahwa embun Tuhan
tak pernah terlambat datang
Meski ada yang menyangsikan:
"Apa mungkin hidup bisa tumbuh,
dari puing-puing penderitaan”
Tapi aku memercayai Tuhan
dari sabar ibu menjahit kesulitan
dengan benang kesungguhan,
menyulamnya menjadi kemudahan
Aku pernah lapar,
tapi tak kehilangan sabar
Aku pernah haus,
tapi tak kehilangan tulus
Tuhan memang sunyi,
selalu setia mengetuk pintu hati
ketika malam datang menghampiri
Aku pun selalu merasa
bahwa rezeki datang tanpa suara
Seperti angin dan gerimis
membawa aroma kayu manis
Seperti surat cinta yang dituliskan
dalam bahasa daun gugur di halaman
Jangan bilang tidak mungkin
sebelum bicara pada takdir
Jangan bilang tidak yakin
Sebelum berkaca pada air
Mereka tahu, Tuhan tak pernah ingkar
hanya kita sering memotong tali sabar
dengan gunting keragu-raguan
dan menyebutnya keyakinan
Malang, 14 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
"Menyingkirkan Tanpa Melukai" Rasanya Mak Jleb!
Dekopinwil Jawa Barat Perjuangkan Niti Sumantri sebagai Pahlawan Nasional
RT dan RW Bukan Sekadar Administrasi, Perlu Diberdayakan Nyata
Lomba RT-RW, Ajang Seru untuk Eratkan Warga Segala Usia
BEM PTNU Soroti Anggaran Negara: Efisiensi yang Malah Tidak Efisien
Mahasiswa 'Aisyiyah Yogyakarta Bersihkan dan Hijaukan Kembali Pantai Baros
Jaringan Intelektual Muda Cianjur Gelar Safari dan Santunan Yatim Dhuafa
Mutiara Pagi: Masih Banyak Pintu (Bagian 1900)
Paradoks Pesta Raya Dangdut di Cianjur
Bank BSI KCP Cianjur dan Klinik Harapan Sehat Gelar CFD Peduli Berupa Santunan Yatim dan Pengobatan Gratis