OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA
Munculnya kecenderungan kaum muda perdesaan semakin enggan jadi petani padi, pada dasarnya merupakan ancaman awal terhadap keberlanjutan pertanian di negeri ini.
Ketika kaum muda perdesaan tidak tertarik lagi jadi petani, tapi lebih senang hijrah ke perkotaan, memberi pesan kepada kita, profesi petani padi, betul-betul sudah sangat tidak populer di benak kaum muda perdesaan.
Hal ini, penting dicermati dengan seksama, karena apa kata dunia, kalau sebuah negeri agraris bila tidak ada petaninya. Itu sebabnya, kita berharap agar Pemerintah segera mencarikan jalan keluarnya, sehingga sedini mungkin, kita akan dapat menangani nya. Kita tentu akan kecewa berat, bila Pemerintah malah menyepelekan masalah regenerasi petani padi.
Secara filosofi, makna regenerasi petani, tidak hanya memandang pertanian sebagai pekerjaan biasa, tetapi sebagai panggilan untuk menjawab tantangan global. Dengan memadukan teknologi canggih dan pengetahuan tradisional, mereka membuka jalan untuk pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Untuk itu, upaya untuk mempercepat regenerasi petani dapat diwujudkan melalui berbagai langkah, termasuk peningkatan dukungan pendidikan, mengubah persepsi orang tua tentang situasi ekonomi petani, memberikan penyuluhan tentang produksi dan distribusi produk pertanian, dan memberikan bantuan ekonomi dari pemerintah.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya krisis regenerasi petani muda di negara kita antara lain : keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, dan sumber daya manusia yang terampil, sehingga menghambat kemampuan petani muda untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan meningkatkan pendapatan mereka ke tingkat yang lebih baik.
Menghadapi "darurat beras" sebagai dampak menurunnya produksi beras, memaksa kepada Pemerintah untuk secara serius menggenjot produksi beras setinggi-tingginya menuju swasembada.
Produksi beras akan meningkat, setidaknya didukung oleh adanya petani dan tersedianya sawah ladang dan lahan lain yang menopang. Omong kosong, produksi akan meningkat, jika petani dan sawah ladangnya tidak dilindungi dengan baik.
Kalau pun Pemerintah terkesan kurang sungguh-sungguh dalam melakukan perlindungan terhadap lahan pertanian produktif yang dicirikan dengan semakin membabi-butanya alih fungsi dan alih kepemilikan lahan, khusus untuk alih generasi petani padi, kita berharap agar Pemerintah tidak menyepelekan penanganannya. Terlebih dengan adanya berbagai soal yang menghambatnya di lapangan.
Selain terekam semakin banyaknya kaum muda perdesaan yang malas jadi petani ditempat kelahirannya, ternyata di beberapa daerah muncul fenomena para orang tua yang kini berprofesi sebagai petani padi, melarang anak-anaknya menjadi petani padi.
Mereka tahu persis menjadi petani padi sekarang, sama saja dengan menjebloskan diri ke dalan suasana hidup miskin dan melarat.
Para orang tua yang kini jadi petani padi, tidak sangat tidak ingin melihat anak-anaknya hidup seperti yang dialaminya. Mereka yakin, jika ingin berubah nasib, sebaiknya anak-anak mereka dapat menenpuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Akibatnya, banyak para petani yang menggadaikan atau menjual sawah ladangnya demi membiayai sekolah anak-anaknya di perkotaan.
Artikel Terkait
PKB Desak Pemkab Cianjur Segera Atasi Empat Isu Krusial demi Kemajuan Daerah
Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis
Puncak Dies Maulidiyah ke-14 Racana KH Abdullah Bin Nuh - Laksminingrat Gerakan Pramuka STAI Al-Azhary Cianjur, Sukses Digelar
Buka Puasa Majlis Alumni IPNU-IPPNU Cianjur: Membangun Soliditas dan Loyalitas untuk NU dan Masyarakat
Mutiara Pagi: Aroma Doa Ramadan (Bagian 1792)
Menjadi Bintang di Malam Ramadan
Keberkahan Terakhir di Bulan Ramadan
Mutiara Pagi: Bulan Suci Beranjak Pergi (Bagian 1793)
Cahaya di Penghujung Ramadan
Ayo Mudik