Aksi Anarki: Membangun Kota, Merobohkan Istana

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 24 Maret 2025 | 08:44 WIB
Mohamad Sinal
Mohamad Sinal

Setelah melihat amuk massa tersebut, kita bertanya-tanya: apakah setan benar-benar telah dikekang, ataukah sekadar berpindah tempat? Ia bersembunyi di dalam hati seseorang yang dipenuhi bara dendam. Ia pindah tempat di dalam hati seseorang yang dipenuhi oleh kemarahan.

Ironi tersebut terlalu menyedihkan untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Alih-alih mencari ampunan, sebaliknya justru menjadi tangan yang mengobarkan api kemarahan. Bukan sekadar membakar Gedung DPRD, tapi juga membakar dirinya sendiri.

Kini, sejarah telah terukir di dinding Gedung DPRD yang hangus. Tapi, apakah mereka yang membakar telah mendapatkan apa yang mereka cari? Apakah tuntutan mereka lebih didengar, atau justru terkubur dalam abu dan arang yang mereka tinggalkan?

Di penghujung Ramadan ini, kita diingatkan bahwa keadilan tak lahir dari kehancuran. Perubahan yang hakiki tak muncul dari amarah yang membakar segalanya, melainkan dari kecerdasan dalam bertindak. Mereka yang membakar mungkin merasa menang, tapi sejarah akan mencatat: “mereka hendak membangun kota, tapi merobohkan istananya”, seperti Mbah Hasyim katakan.

Imam Al-Ghazali, pernah berkata, "Keadilan adalah pondasi dari setiap negeri yang damai, sedangkan kehancuran hanya akan melahirkan lebih banyak kezaliman." Beliau mengingatkan bahwa keadilan tidak bisa ditegakkan dengan cara yang zalim. Sebab, setiap tindakan penuh kebencian hanya akan berujung pada kehancuran yang lebih luas.

Sementara itu, Syekh Ibn Utsaimin menegaskan bahwa, "Jika keadilan hendak ditegakkan, harus dengan hikmah, bukan dengan dendam. Mereka yang memilih jalan kehancuran tidak sedang menegakkan keadilan, melainkan memuaskan amarahnya sendiri." Kata-kata ini mengingatkan bahwa kemarahan tanpa kendali akan menjadi alat bagi mereka yang ingin menebar kekacauan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menyatakan, "Islam tidak mengajarkan kezaliman meskipun terhadap orang yang zalim. Keadilan harus ditegakkan dengan cara yang benar, bukan dengan perbuatan yang menghancurkan." Beliau mengingatkan, Islam tidak membenarkan kehancuran sebagai bentuk perlawanan, karena hal tersebut justru mencoreng nilai-nilai Islam itu sendiri.

Ramadan mengajarkan tentang pengendalian diri, bukan tentang menyerahkan kendali pada provokator yang mengintai dalam gelap. Setelah api itu telah padam, marilah kita pastikan bahwa nyala kebijaksanaan tetap hidup di hati kita. Oleh sebab itu, jangan biarkan akal sehat kita terjebak dalam permainan tersebut.

*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X