Oleh Mohamad Sinal
K.H. Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) pernah berpetuah, “Dakwah dengan cara memusuhi ibarat orang membangun kota, tetapi merobohkan istananya.” Apabila dicermati, kata "dakwah" dan "demonstrasi" (demo), dari segi makna, memiliki persamaan dalam hal menyampaikan aspirasi dan mengajak perubahan. Keduanya dapat memberikan dampak positif jika dilakukan dengan cara yang damai dan bijak.
Namun, jika dilakukan dengan cara yang salah, keduanya bisa menjadi sumber konflik dan perpecahan. Oleh karena itu, baik dalam dakwah maupun demo, penting untuk mengedepankan etika, hikmah, dan kepentingan bersama. Jika hal tersebut diabaikan, dapat berbuah kehancuran.
Angin malam Ramadan di kota Malang berhembus pelan, membawa doa-doa yang melangit dari lisan-lisan yang mengering karena puasa. Bintang pun menyaksikan dengan penuh harap, bahwa di bulan suci, kebencian akan mereda. Dendam akan sirna, dan amarah akan teredam oleh kasih sayang yang berlimpah.
Namun sayang, di jantung kota Malang, di gedung yang seharusnya menjadi simbol kehormatan dan kebijaksanaan, api menjilat-jilat langit malam. Bukan obor kebenaran yang dinyalakan, melainkan bara amarah yang meradang. Dalam riuh suara takbir yang seharusnya menjadi lantunan syahdu, ada seruan lain yang menggema: pekik kemarahan.
Gemuruh langkah-langkah yang menghentak aspal berubah menjadi tindakan pembakaran. Gedung DPRD Kota Malang, yang berdiri kokoh sebagai saksi sejarah, menjadi korban dari gelombang kemarahan. Dinding-dindingnya meratap dalam kobaran api, seakan menangisi kebijaksanaan yang lenyap di telan pekik anarkis.
Adakah Dalang di Balik Layar?
Di balik kepulan asap hitam dan kaca-kaca yang pecah, adakah sosok yang tersenyum puas? Mungkin, ia tak tampak di garis depan, tak terdengar suaranya dalam pekikan amarah massa. Namun, berada di luar sana, jauh dari panasnya api yang ia sulut sendiri.
Seperti tukang sulap yang lihai, ia menggerakkan bidak-bidaknya dengan cekatan. Satu per satu, mereka digiring ke lapangan, diberi api, dan didorong untuk membakar. Dengan demikian, tak perlu mengotori tangannya, cukup memetik senar emosi dan menyaksikan panggung sandiwara tersebut dimainkan dengan sempurna.
Mereka yang turun ke jalan mungkin mengira sedang memperjuangkan keadilan. Meskipun tangan yang melempar batu mengetahui untuk siapa mereka berperang. Semoga mereka bukan wayang dalam drama yang diarahkan oleh dalang tak kasatmata.
Terlalu sering kita melihat hal yang serupa dengan mengatasnamakan rakyat. Padahal sejatinya, tidak jarang digerakkan oleh kepentingan tertentu. Mereka berteriak lantang, tapi terkadang tidak mengetahui dengaan pasti makna kata-kata yang diucapkan.
Hak Bersuara Vs Amarah yang Membara
Hak bersuara adalah hak yang dijamin oleh konstitusi. Ia adalah cahaya dalam demokrasi. Ia bagai api unggun yang harus menerangi jalan kebenaran.
Namun realitanya, api itu berubah jadi liar. Bukan berfungsi sebagai penerang, melainkan sarana untuk berperang. Hak bersuara yang seharusnya dijaga dengan hikmah, tetapi disulut oleh kemarahan.
Bulan suci seharusnya menjadi momen untuk menundukkan kepala, bukan mengangkat tangan untuk meluapkan amarah. Ia adalah bulan untuk menahan diri, bukan bulan untuk melepaskan benci. Para ulama berkata, Ramadan adalah saat ketika setan dibelenggu.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Vibrasi Ramadan (Bagian 1787)
Sebuah Universitas Tua yang Kini Menjual Gelar
Menjadi Ulul Albab
Mengenang Wafatnya Mbak Rara, Hafizah Di Luar Pesantren Tahfiz
RUU TNI Triger Kemarahan Rakyat yang Sudah Tidak Percaya Rezim Prabowo
Prabowo dan Sri Mulyani Berbeda Sikap Terkait Bursa Saham
Mutiara Pagi: Wasilah Ramadan (Bagian 1788)
Hening yang Mengajarkan Makna
Karang Taruna Cibinong Gelar Santunan Anak Yatim dan Bagi Takjil di Bulan Ramadhan
Mutiara Pagi: Xerosis di Dalam Jiwa (Bagian 1789)