Menjadi Ulul Albab

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 23 Maret 2025 | 04:00 WIB
ilustrasi. Doa yang dianjurkan dibaca pada malam Lailatul Qadar (pixabay.com/mucahityildiz)
ilustrasi. Doa yang dianjurkan dibaca pada malam Lailatul Qadar (pixabay.com/mucahityildiz)

Oleh: Arif Satria (Ketua Umum ICMI)

Apa arti ulul albab? Menurut QS Ali Imran 191, ulul albab adalah orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Dari ayat tersebut setidaknya ada dua komponen penting ulul albab, yaitu zikir dan pikir. Dua komponen itu menyatu, tidak terpisahkan. Jadi, ulul albab adalah orang yang berzikir dan berpikir sekaligus.

Mengapa keduanya harus berpadu?
Pertama, zikir adalah bentuk pengakuan akan kekuasaan Allah SWT sehingga membuat kita harus rendah hati dan tidak boleh sombong dengan ilmu kita. Hal itu karena Allah Maha Berilmu.

Kedua, zikir adalah mekanisme internalisasi nilai-nilai kemuliaan yang akan menjadi sumber etik dalam berilmu. Zikir adalah kompas aksiologis agar ilmu mencapai puncak kemanfaatan bagi kemanusiaan dan alam semesta.

Ketiga, zikir adalah mekanisme untuk mengasah nurani. Dalam setiap jiwa manusia terdapat nurani dan dhulmani.

Nurani adalah cahaya hati yang akan memandu pada nilai kebenaran, sedangkan dhulmani adalah kegelapan hati yang akan mengarahkan pada keburukan.

Jadi, dalam berilmu perlu diwarnai kecenderungan untuk berbuat baik. Ilmu adalah untuk kebaikan, bukan untuk kejahatan.

Keempat, zikir adalah navigator menuju ketenangan batin karena barang siapa mengingat Allah maka akan tenanglah hatinya.

Ketenangan batin merupakan fondasi bagi menguatnya berpikir positif, dan berpikir positif akan mengatasi keputusasaan dalam mencari dan menerapkan ilmu.

Kelima, zikir akan membuahkan keyakinan bahwa apa yang Allah ciptakan di dunia tidak ada yang sia-sia. Ayat 191 ini turun sebagai jawaban atas doa Nabi Muhammad SAW yang ditantang oleh suku Quraisy: apakah Nabi bisa menyulap bukit Shofa-Marwa menjadi emas?

Karena itulah Allah mengingatkan agar manusia selalu berpikir tentang penciptaan alam dan yakinlah bahwa semua ciptaan Allah itu tidak ada yang sia-sia.

Untuk membuktikan bahwa tidak ada satu pun ciptaan Allah yang sia-sia, diperlukan ilmu pengetahuan. Sebab itulah kita diharuskan menguasai ilmu pengetahuan dan menguak rahasia alam ciptaan Allah sebagai bentuk syukur kita dianugerahi akal.

Kita juga diharuskan menguasai ilmu pengetahuan untuk menjalankan fungsi sebagai wakil Allah di muka bumi, yang tugasnya membawa rahmat bagi seluruh alam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X