Dalam rintihan doa sebelum cahaya pagi tiba, tak terasa air mata jatuh di atas sajadah. Terdapat harapan yang menyala-nyala: semoga Allah menghapus dosa-dosa yang telah berlalu. Semoga Allah menjadikan kita insan yang lebih baik.
Ampunan Allah adalah cahaya bagi mereka yang tersesat. Petunnjuk bagi mereka yang mencari jalan pulang. Naungan bagi mereka yang kelelahan dalam perjalanan hidup.
Oleh sebab itu, jangan biarkan bulan Ramadan berlalu tanpa mengetuk pintu langit dengan doa dan harapan. Jalan biarkan Ramadan pergi, tanpa memohon ampunan terhadap dosa-dosa yang telah kita jalani. Jangan biarkan Ramadan berlalu, tanpa memohon hidayah ke mana arah hidup hendak menuju.
Ramadhan adalah bulan turunnya ampunan. Bulan di mana cinta Ilahi mengalir deras. Menanti siapa pun yang ingin merasakan ketenangan dalam dekapan-Nya.
Oleh sebab itu, marilah kita rengkuh bulan ini dengan hati yang bersih. Jiwa yang pasrah, dan harapan yang tak terbatas. Sebab, tiada yang lebih membahagiakan selain kembali dalam keadaan suci di hadapan-Nya.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
Artikel Terkait
Sosok Ratu Ageng, Nenek Buyut Pangeran Diponegoro
PK PMII STAI Al-Azhary Cianjur Gelar MAPABA: Cetak Kader Intelektual Berjiwa Aswaja dan Pembawa Perubahan
PCNU Cianjur Gelar Pekan Raya Ramadhan, Bangkitkan Ekonomi Umat di Bulan Suci
Panggung Spektakuler Grand Final Duta Pendidikan Jawa Barat 2025: Dari Inspirasi Menuju Aksi Nyata!
Mutiara Pagi: Oase Bulan Suci (Bagian 1780)
Semilir Angin dari Lembah Taubat
Viral! Miss Asia Indonesia Kalisa Putri Dapat THR Mobil dan Dollar, Kira-kira dari Siapa Ya?
Mutiara Pagi: Puasa dan Kemuliaan (Bagian 1781)
KH Maruf Amin Hadiri Silaturahmi Ramadan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Sri Sultan Hamengkubuwono IX Bikin Pingsan si Mbok Pedagang Beras