Oleh Mohamad Sinal
Ramadan adalah bulan, di mana Allah menurunkan ampunan laksana hujan. Membasahi hati manusia yang haus akan kasih sayang-Nya. Mengapa Allah memberikan begitu banyak ampunan dalam satu bulan, tetapi bukan sepanjang tahun?
Pertanyaan tersebut membawa kita kepada hikmah Ilahi. Manusia adalah makhluk yang cenderung lupa. Seringkali manusia terjebak dalam kesibukan duniawi hingga lupa untuk kembali kepada Tuhannya.
Oleh karena itu, Allah menciptakan ritme dalam kehidupan manusia. Ada waktu-waktu khusus untuk kembali kepada-Nya. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menyucikan diri.
Seperti sungai yang terus mengalir membersihkan kotoran yang ada. Ramadhan hadir sebagai aliran kasih sayang yang membasuh noda-noda kehidupan. Membersihkan dosa-dosa yang bersarang di dalam diri manusia.
Dalam keheningan malam yang dihiasi cahaya rembulan suci, ada sebuah keagungan yang tak kasat mata. Keagungan itu terasa begitu nyata dalam sanubari manusia yang merenung. Ia adalah malam yang dinanti-nanti, yang membawa aroma pengampunan.
Di dalamnya tersimpan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Di setiap detiknya, ada gemuruh doa yang menggetarkan langit. Ada jutaan bibir yang bergetar melantunkan istighfar.
Mereka memohon agar dosa-dosa yang telah lama tertimbun dalam lembaran sejarah hidup dapat dihapuskan. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut adalah panggilan yang mengandung makna penghapusan dosa. Dalam konteks ini, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa juga perjalanan spiritual yang membawa manusia kembali pada fitrah.
Syekh al-Sa’di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Ramadhan adalah madrasah bagi jiwa. Dengan Ramadan, hati yang gelap bisa bercahaya kembali oleh ampunan Allah. Di dalamnya, manusia bertransformasi, meninggalkan bayang-bayang hitam masa lalu dan melangkah menuju cahaya.
Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup rapat pintu-pintu neraka. Rasulullah SAW bersabda: “Ketika datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, betapa besar kemurahan Allah, dan luas ampunan-Nya.
Dalam bulan Ramadan, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ketika seorang hamba berdoa, Allah akan mengabulkannya. Malam tersebut penuh dengan limpahan ampunan, yaitu malam Lailatul Qadar.
Ibn Qayyim al-Jauziyah menyebut malam itu sebagai “malam kepastian takdir”. Malam di mana lembaran-lembaran kehidupan dituliskan dengan tinta rahmat. Hanya mereka yang hatinya bersih dan jiwanya berharap akan ampunan, yang akan mampu menangkap keagungan malam tersebut.
Hasan al-Bashri pernah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu harimu berlalu, maka sebagian dari dirimu telah tiada.” Ramadhan adalah anugerah yang tidak selalu datang. Di dalamnya terdapat kesempatan yang mungkin tidak akan terulang.
Dengan demikian, setiap tarikan napas di bulan Ramadan seharusnya menjadi hembusan istighfar. Setiap langkah seharusnya menuju kebaikan. Setiap detik seharusnya menjadi penyaksian atas pertaubatan.
Artikel Terkait
Sosok Ratu Ageng, Nenek Buyut Pangeran Diponegoro
PK PMII STAI Al-Azhary Cianjur Gelar MAPABA: Cetak Kader Intelektual Berjiwa Aswaja dan Pembawa Perubahan
PCNU Cianjur Gelar Pekan Raya Ramadhan, Bangkitkan Ekonomi Umat di Bulan Suci
Panggung Spektakuler Grand Final Duta Pendidikan Jawa Barat 2025: Dari Inspirasi Menuju Aksi Nyata!
Mutiara Pagi: Oase Bulan Suci (Bagian 1780)
Semilir Angin dari Lembah Taubat
Viral! Miss Asia Indonesia Kalisa Putri Dapat THR Mobil dan Dollar, Kira-kira dari Siapa Ya?
Mutiara Pagi: Puasa dan Kemuliaan (Bagian 1781)
KH Maruf Amin Hadiri Silaturahmi Ramadan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Sri Sultan Hamengkubuwono IX Bikin Pingsan si Mbok Pedagang Beras