Sujud adalah bahasa cinta yang paling jujur. Sujud adalah pintu langit, di mana seorang hamba benar-benar melepaskan dirinya dan menyerahkan seluruhnya kepada Yang Maha Pengasih. Oleh sebab itu, kata Maulana Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, “Jika engkau ingin berbicara dengan Tuhan, maka sujudlah.”
Jadi, sujud adalah keabadian dalam kefanaan. Ia adalah pengakuan bahwa manusia bukanlah pusat dari segala sesuatu. Manusia hanyalah hamba yang harus tunduk pada kehendak Sang Maha Pengatur.
Selain itu, sujud bukan sekadar ritual. Sujud adalah jalan menuju kehancuran ego yang membawa manusia pada kebebasan sejati. Seperti kata Rabiah Al-Adawiyah, “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau menginginkan surga, tetapi karena Engkaulah yang layak disembah.”
Dalam sujud yang penuh ketulusan, manusia tak lagi memiliki apa pun selain dirinya yang terkulai dalam cinta Ilahi. Di situlah, dalam keheningan sujud, ego akhirnya tersungkur. Ego menjadi hancur di hadapan kebesaran dan keagungan Tuhan.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
Artikel Terkait
Ramadan: Telaga di Padang Gersang
Mutiara Pagi: Keheningan (Bagian 1796)
Digitalisasi Pesantren
Pamor Sepeninggal Prabu Siliwangi dan Sunan Gunung Jati Cirebon
KAHMI Jabar Dukung Gubernur Dedi Mulyadi Relokasi Kawasan Puncak Cisarua, Bogor
Ratusan Siswa Ikuti Sanlat BKPRMI Cianjur: Membentuk Pemuda Religius yang Berkontribusi untuk Umat
Mutiara Pagi: Lantunan Firman Ilahi (Bagian 1797)
Presnas BEM PTNU Dukung Presiden Prabowo Bersihkan Pemerintahan dari Koruptor
Langkah Kecil Menuju Keabadian
Mutiara Pagi: Malam yang Dinanti (Bagian 1798)