Berpuasa di bulan suci,
menahan haus, menahan lapar
Bukan sekadar tubuh diuji,
namun hati dilatih sabar
Daun kering melayang pelan
Dibawa angin menari-nari
Terombang-ambing keimanan
Bila tiada keteguhan hati
Keheningan menjadi saksi
Di setiap doa terlantun mesra
Mengingatkan hati nurani
Supaya hidup tak sia-sia
Di ufuk langit yang sunyi
Perlahan mentari menepi
Menyisakan cahaya senja
Serta usia yang tersisa
Berlayar perahu di tepi muara
Angin berbisik lirih merayu
Waktu berlalu tiada terasa
Mendekati titik yang kita tuju
Sehingga tidak pilihan lain
Kecuali kita harus yakin
Bahwa semua pasti kembali
Ke pangkuan Yang Maha Suci
Malang, 11 Maret 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Indahnya Bulan Suci (Bagian 1794)
Sanlat Ramadhan 1446 H Resmi Dibuka: BKPRMI Cianjur Cetak Generasi Qurani Berakhlak Mulia
Gunung Padang: Piramida Tertua di Dunia Tersembunyi di Bawah Bumi
Apda Jabar Apresiasi Program Kopdes Merah Putih, Hanya Pemdes Korup dan Cawe-cawe Anggaran yang Menolak
Mutiara Pagi: Jejak Cinta Ramadan (Bagian 1795)
Amalan Menjadi Sia-sia
HPP Gabah dan Petani Gurem
Ternate dan Tidore, Dua Pulau di Maluku Utara Seperti Adik-Kakak
Tantangan Disrupsi Teknologi, PAC MDS RA Karangtengah Cianjur Sampaikan Pesan Penting untuk Seni Kaligrafi dalam Regenerasi Digital
Ramadan: Telaga di Padang Gersang