Ramadan datang dan pergi
Penuh cinta Yang Maha Suci
Sebuah perjalanan batin
Berbeda dengan bulan yang lain
Jejak cinta dalam Ramadan
Menjelma dalam keikhlasan
Ketika hati rela memaafkan
Serta mengakui adanya kesalahan
Jejak cinta terpahat mesra
Di sela-sela lapar dan dahaga
Bukan sekadar menahan rasa
Tapi cinta yang kian bermakna
Jejak cinta itu nyata
Bukan cerita usang belaka
Memberi tanpa mengharap kembali
Bukti cinta Yang Maha Suci
Mengalir tak pernah putus
Seperti embun menetes terus menerus
Meski Ramadan telah berlalu
Cinta yang ada tak pernah terbelunggu
Cinta Ramadan membawa damai
Mendekap hati tenteram kembali
Menabur rindu tak kunjung usai
Mengalun lembut di malam sunyi
Malang, 10 Maret 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Harapan di Setiap Sujud (Bagian 1793)
Korupsi Pertamina: Sekali Tepuk Dua Sasaran Didapat
Sejarah Buton (Wolio) Sulawesi Tenggara
MENYERAP GABAH TANPA SYARAT KADAR AIR DAN KADAR HAMPA
Kolaborasi Yayasan Relief Indonesia dan Pemdes Sukasari Karangtengah Salurkan Bantuan Rutilahu dan Sembako di Bulan Penuh Berkah
Lapar dalam Puasa Menjadi Metafora Kerinduan
Mutiara Pagi: Indahnya Bulan Suci (Bagian 1794)
Sanlat Ramadhan 1446 H Resmi Dibuka: BKPRMI Cianjur Cetak Generasi Qurani Berakhlak Mulia
Gunung Padang: Piramida Tertua di Dunia Tersembunyi di Bawah Bumi
Apda Jabar Apresiasi Program Kopdes Merah Putih, Hanya Pemdes Korup dan Cawe-cawe Anggaran yang Menolak