Oleh Mohamad Sinal
Ada satu gerakan dalam perjalanan spiritual manusia yang tak sekadar raga yang berserah, tetapi jiwa yang larut dalam lautan kerendahatian. Sujud, adalah kepasrahan yang menghapus jarak antara seorang hamba dan Sang Khalik. Sujud adalah pintu menuju kerendahan hati yang sejati.
Seperti seorang musafir yang kehausan di padang pasir. Ego manusia terus mencari pengakuan dan ketenaran. Namun, sujud mengajarkan bahwa kemuliaan sejati justru terletak dalam ketundukan hati.
Dalam sujud, seseorang dituntun untuk meluruhkan dirinya. Membebaskan belenggu keakuan yang sering kali merintangi jalan menuju kerendahtian. Sujud bukan sekadar menempelkan dahi ke bumi, melainkan menanggalkan kepongahan yang selama ini selalu membebani.
Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Keajaiban sujud terletak pada hilangnya diri, hingga yang tersisa hanyalah kehendak Ilahi.” Yang ada hanyalah kerendahatian. Serta hilang perasaan ego dan kesombongan.
Para sufi pun memahami bahwa ego adalah dinding tebal yang menghalangi cahaya ketuhanan. Abu Yazid Al-Busthami, seorang sufi dari Persia, pernah berkata, “Antara aku dan Dia ada hijab, dan hijab itu adalah ‘aku’.” Oleh sebab itu, seseorang harus menundukkan ‘aku’-nya, melebur dalam samudra kehendak Ilahi, dan merasakan sujud yang sejati.
Sujud bukanlah sekadar bentuk ibadah, tetapi juga perjalanan menuju kehancuran ego yang paling utama. Al-Hallaj, sufi yang terkenal dengan ungkapan “Ana al-Haqq” (Akulah Kebenaran), memahami bahwa hakikat keberadaan manusia adalah ketidakberadaan dirinya. Sujud bukan sekadar tindakan, tetapi keadaan fana, di mana batas antara hamba dan Tuhan mencair dalam lautan cinta yang tak terbendung.
Menyingkap rahasia sujud adalah memahami sebagian rahasa kehidupan. Yakni, bahwa kehidupan ini bukan tentang siapa yang paling tinggi, melainkan siapa yang paling rendah hati. Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam menuliskan, “Engkau tidak akan sampai kepada-Nya selama masih ada sesuatu yang bersandar kepada dirimu sendiri.”
Sujud mengajarkan kita untuk menggugurkan segala rasa kepemilikan. Menyerahkan seluruh kesombongan pada Dia yang Maha Memiliki Kekuasaaan. Sebab, gunung yang tinggi sekali pun akan terkikis oleh angin waktu, sementara tanah yang rendah menjadi tempat tumbuhnya kehidupan.
Di dalam sujud, terdapat makna keterhinaan yang paling mulia. Para sufi mengajarkan bahwa kehancuran ego bukanlah kehancuran yang menyakitkan. Ia adalah pembebasan diri dari belenggu keakuan yang selama ini menyesakkan.
Seorang sufi besar, Fudhail bin Iyadh, berkata, “Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain, karena engkau tidak tahu bagaimana akhir kehidupanmu.” Sujud mengajarkan bahwa kebesaran sejati hanya dimiliki oleh Yang Maha Suci. Tidak ada kebanggaan yang dibanggakan terlalu berlebihan, sebab kita hanyalah sebutir debu di hadapan keagungan-Nya.
Kesombongan adalah pangkal dari segala penyakit hati. Iblis, yang dahulu mulia, jatuh karena enggan bersujud kepada Adam. Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pelajaran bagi kita.
Ketika seseorang enggan merundukkan dirinya. Ketika ego lebih berkuasa dari cinta kepada Tuhannya, sebenarnya ia sedang berjalan menuju kehancuran dirinya. Berjalan mendekati kerendahan dirinya.
Di sisi lain, sujud bukan hanya sekadar bentuk kepatuhan, tetapi juga sebuah pengakuan bahwa tiada daya dan kekuatan selain milik Allah. Al-Junaid Al-Baghdadi pernah berkata, “Seseorang tidak akan mencapai hakikat ketauhidan selama masih tersisa kebanggaan dalam dirinya.” Sujud adalah deklarasi bahwa segala pencapaian dan kehebatan, semuanya hanyalah titipan Tuhan.
Dalam kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam jerat ego yang tak kasatmata. Ambisi, popularitas, dan pencapaian duniawi menjadi berhala baru yang disembah secara halus. Namun, bagi mereka yang memahami makna sujud, kehidupan bukanlah perlombaan menuju ketinggian, melainkan perjalanan menuju kedalaman hati yang hakiki.
Seperti air yang selalu mengalir ke tempat paling rendah. Manusia yang selalu dekat dengan Tuhannya tidak akan pernah merasa gagah. Hatinya akan selalu tertunduk, merasakan keagungan Tuhan yang mereka sembah.
Artikel Terkait
Ramadan: Telaga di Padang Gersang
Mutiara Pagi: Keheningan (Bagian 1796)
Digitalisasi Pesantren
Pamor Sepeninggal Prabu Siliwangi dan Sunan Gunung Jati Cirebon
KAHMI Jabar Dukung Gubernur Dedi Mulyadi Relokasi Kawasan Puncak Cisarua, Bogor
Ratusan Siswa Ikuti Sanlat BKPRMI Cianjur: Membentuk Pemuda Religius yang Berkontribusi untuk Umat
Mutiara Pagi: Lantunan Firman Ilahi (Bagian 1797)
Presnas BEM PTNU Dukung Presiden Prabowo Bersihkan Pemerintahan dari Koruptor
Langkah Kecil Menuju Keabadian
Mutiara Pagi: Malam yang Dinanti (Bagian 1798)