Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Menangislah di malam Ramadan sebelum kau dipaksa menangis di hari kiamat.” Maka, biarkanlah hujan di luar menjadi saksi, bahwa ada hati yang kembali kepada-Nya. Ada jiwa yang mengakui kelemahan, dan rindu yang kembali kepada pemiliknya.
Ketika Ramadan berlalu, hujan pun akan terus turun. Semua itu menyadarkan kita bahwa keberkahan langit tak pernah berhenti. Hujan bukan hanya sekadar air yang jatuh dari langit, tetapi juga doa yang dikabulkan, rahmat yang diberikan, dan cinta yang diturunkan.
Semoga kita menjadi seperti tanah yang siap menerima hujan Ramadan. Subur, penuh dengan kehidupan. Selalu siap menumbuhkan kebajikan sepanjang tahun.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Fenomena Ramadan (Bagian 1791)
Jejak Cahaya di Bulan Ramadan
Bazar Ramadhan 2025 di Perum Bumi Marhamah: Wujudkan Ekonomi Berkembang dan Silaturahmi Antar Warga
Pendidikan Istimewa di Jawa Barat: Komitmen Bersama untuk Membangun Generasi yang Cerdas dan Berkarakter
Tips Mudah Bangun Sahur: Agar Tidak Ketinggalan dan Lebih Semangat
Mutiara Pagi: Gema Takbir Ramadan (Bagian 1792)
Desa Bangbayang Sambut Hangat Mahasiswa KKN-T PTMGRMD, Siap Bangun Bersama Masyarakat
Ramadan Sarana Menyuburkan Jiwa
Sambut Ramadan, Grand Aston Puncak Perkenalkan Paket Kuliner '1001 Rasa'
Catatan Pencapaian Swasembada Pangan