Bumi terbasuh oleh lantunan ayat,
menghidupkan jiwa dalam nikmat taat
Lapar dan dahaga yang menjadi persembahan,
hanyalah cara untuk menggapai kemuliaan
Senja menyapa dengan warna emas,
menghantarkan doa dengan tulus ikhlas
Agar usaha dan setiap rintangan,
menjadi tangga untuk menuju keimanan
Bintang-gemintang bercahaya lembut
Doa-doa lirih mengalun khusyuk
Dalam sujud panjang rindu terpaut
Mengharap ampunan dengan hati tertunduk
Langit berbisik dengan damai teduh,
membawa harap yang tak pernah lusuh
Dalam hening, jiwa bercerita,
mengadu rindu kepada Sang Pencipta
Ketika pagi menjelang tiba
Cahaya Ilahi menyapa jiwa
Menyentuh hati yang tengah hampa
Sejuk terasa di dalam dada
Mentari pagi bersenandung janji
Mengalun syahdu dengan cahaya berseri
Menyapa bumi dengan kehangatan
Setelah embun pagi menari di ujung dedaunan
Malang, 6 Maret 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Dahaga yang Indah (Bagian 1789)
Taubat Ruhani di Bulan Suci
Tagar “Kabur Aja Dulu” dan Keangkuhan Para Elit
Panen di Saat Hujan, Petani Menanti Sinar Matahari
Puasa: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Mutiara Pagi: Embun Doa di Bulan Suci (Bagian 1790)
Musim Semi di Bulan Suci
Demi Indonesia Mandiri Pangan 2025 !
PK PMII STAI Al-Azhary Cianjur Lakukan Launching Pembuatan Sumur Bor untuk Masjid Nurul Ied
DEM Jabar Minta Presiden Evaluasi Menteri BUMN, Menteri ESDM dan BPH Migas