Jejak Cahaya di Bulan Ramadan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 6 Maret 2025 | 07:11 WIB
Mohamad Sinal
Mohamad Sinal

Oleh Mohamad. Sinal

Ramadan adalah lentera yang menerangi jalan-jalan hati yang berada dalam gulita dunia. Ia datang seperti cahaya pagi yang mengusir kelam. Menyentuh relung-relung jiwa dengan penuh kelembutan.

Menurut Fakhruddin al-Razi, cahaya Ramadan dapat diartikan sebagai nur makrifat, yakni sebuah pemahaman dan kesadaran akan hakikat ketuhanan yang lebih dalam. Ramadan adalah waktu di mana hati yang gelap karena syahwat dan kebiasaan duniawi, diterangi oleh cahaya spiritual.

Ia juga mengatakan, Ramadan merupakan sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadah). Ramadan bukan hanya bulan menahan diri dari makan dan minum. Ramadan adalah bulan untuk menguatkan akal dan ruhani, sehingga manusia lebih dekat kepada Ilahi.

Ramadan hadir bagai rembulan yang terbit di langit malam. Mengingatkan bahwa di balik kegelapan, ada cahaya yang dapat dijangkau oleh hati yang rindu kepada-Nya. Ia adalah fase di mana ruh yang letih dapat menemukan oase di tengah padang pasir kehidupan.

Ramadan adalah bulan penuh keberkahan, di mana cahaya wahyu turun ke bumi untuk pertama yang kali. Ibnu Katsir menegaskan bahwa malam seribu bulan (Lailatul Qadar) adalah puncak kemuliaan Ramadan. Allah berfirman: "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan" (QS. Al-Qadr: 3).

Ayat tersebut memberi isyarat bahwa dalam keheningan Ramadan, ada rahasia besar yang menanti jiwa-jiwa untuk bersungguh-sungguh dalam mencari-Nya. Ia adalah waktu di mana manusia belajar menjadi cermin bagi cahaya Tuhan. Membiarkan diri mereka diterangi oleh limpahan rahmat dan ampunan-Nya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa Ramadan adalah perjalanan untuk menemukan cahaya dalam diri. Cahaya tersebut akan memantulkan cahaya Ilahi, sebagaimana bulan memantulkan sinar matahari di kegelapan malam.

Oleh sebab itu, cahaya Ramadan bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Seperti pelita yang menerangi sekelilingnya, seseorang yang meraih cahaya tersebut harus menyalurkan kepada sesama. Rasulullah bersabda, "Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun" (HR. Tirmidzi).

Jadi, Ramadan mengajarkan bahwa cahaya kasih sayang harus dibagikan, bukan hanya disimpan di dalam hati. Selain itu, juga mengingatkan bahwa Ramadan adalah waktu di mana tangan-tangan yang memberi akan menemukan keajaiban kedermawanan. Doa-doa yang dipanjatkan dalam sujud akan menemukan jalannya menuju langit.

Ketika Ramadan usai, kita berharap jejak cahayanya masih tertinggal di dalam diri. Ia tidak berlalu seperti angin yang menyentuh wajah tanpa meninggalkan bekas. Dengan kata lain, Ramadan bukan sekadar tamu tahunan, melainkan menjadi cahaya yang akan terus menyala di dalam hati.

Ramadan menjadi cahaya, sebagaimana rembulan memantulkan cahaya matahari, bahkan setelah fajar menyingsing. Begitu pula dengan hati kita yang telah disucikan oleh Ramadan akan tetap bercahaya meski bulan suci telah berlalu.

Dalam tafsir Al-Azhar Buya Hamka menjelaskan, bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa juga membentuk karakter dan memperbaiki akhlak. Jika seseorang benar-benar menjalani Ramadan dengan penuh keikhlasan, efeknya akan berlanjut setelah Ramadan berakhir.

Cahaya keimanan yang diperoleh selama Ramadan akan tetap terpancar dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, ia juga mengingatkan agar umat Islam (orang yang berpuasa) tidak kembali kepada kebiasaan buruk setelah Ramadan berlalu. Dalam salah satu nasihatnya, Buya Hamka berkata, "Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan diri dari segala yang buruk. Keberhasilan puasa adalah ketika setelah Ramadan, kita tetap menjaga kebaikan itu."

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Taubat Ruhani di Bulan Suci

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB

Mutiara Pagi: Amanah (Bagian 2255)

Senin, 29 Juni 2026 | 07:49 WIB

Mutiara Pagi: Romantika Kehidupan (Bagian 2254)

Minggu, 28 Juni 2026 | 07:32 WIB

Mutiara Pagi: Merawat Hati (Bagian 2253)

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:27 WIB

Mutiara Pagi: Adab (Bagian 2252)

Jumat, 26 Juni 2026 | 07:15 WIB

Mutiara Pagi: Merawat Pagi (Bagian 2251)

Kamis, 25 Juni 2026 | 06:26 WIB
X