Oleh : Hendri Asmoro
Banyak sekali perilaku-perilaku buruk yang dipertontonkan oleh golongan klan ba’alwi di hadapan masyarakat luas tentang akhlak adab dan kesopan santunan di depan umum.
Ini adalah tulisan yang akan menampar kalian semua khususnya para santri atau yang pernah mondok di pesantren. Sebenernya nalar saya selama ini tidak nyambung ketika para santri dididik untuk menghadapi persoalan masalah umat dengan ilmu secara bahtsul masail, tetapi begitu hadir persoalan ba’alwi, malah dianjurkan mengedepankan prasangka yang baik atau husnudzon.
Jadi bertahun-tahun belajar kitab, nahwu, shorof, mantiq, ma’ani, bayan, balaghah dan 15 cabang ilmu lainya seperti dibikin tumpul atau sia-sia.
Banyak sekali perilaku-perilaku buruk yang dipertontonkan oleh golongan klan ba’alwi di hadapan masyarakat luas tentang akhlak adab dan kesopan santunan di depan umum, namun hal itu tidak ada sekalipun orang yang katanya ahli agama yang berani menasehati sebelum adanya tesis KH. Imaduddin Utsman al-bantani.
Seorang pembaca handal, pasti akan mengerti maksud dari tulisan ini sebelum saya uraikan panjang lebar meskipun hanya membaca judulnya saja. Kembali ke topik pembahasan.
SIAPA USMAN BIN YAHYA?
Usman bin yahya adalah antek penjajah yang sengaja diangkat sebagai mufti oleh belanda untuk melemahkan perjuangan kaum muslimin pribumi melawan penjajah belanda pada masa itu, dengan pengetahuan agama yang ia miliki, usman bin yahya sering membuat fatwa-fatwa bahwa pribumi haram melawan penjajah belanda, fatwa tersebut beredar luas di internet semenjak terbukti bahwa habib ba’alwi bukanlah keturunan nabi, melainkan hanya mengaku-ngaku saja.
Pada masa itu, belanda sengaja mendatangkan orang yang mengerti agama untuk membantu penjajahannya ke indonesia, sebab belanda sendiri tau, kekuatan orang indonesia itu karena persatuan ruh islam yang ada di masing-masing hati pribumi, dengan demikian, jangankan untuk menang impas saja susah.
APA HUBUNGAN BA’ALWI DENGAN USMAN BIN YAHYA?
Klan ba’alwi atau yang dikenal dengan sebutan habib, habaib dan hababah jika panggilan untuk wanita, usman bin yahya adalah salah satu nenek moyangnya yang ada di indonesia, sebetulnya paling terkenal dan berpengaruh bagi perjuangan belanda, sebab usman bin yahya sendiri masuk dalam daftar orang yang dijadikan mufti oleh belanda, namun belakangan ini diframing sebagai pahlawan ilmu islam di indonesia oleh beberapa media online dan disebarkan para pengikutnya.
Genap satu abad, nampaknya cara-cara seperti usman bin yahya ini masih jitu dan sanggup untuk menjadikan orang berilmu jadi tumpul ketika dihadapkan dengan persoalan ba’alwi, hal tersebut bisa dilihat dari seberapa banyak orang yang disebut gus, ustadz online, kyai online yang tunduk dan melupakan nalarnya saat di pondok bahwa para santri diharuskan bahtsul masail ketika menghadapi masalah.
Para gus-gus online ini bukanya belajar menelaah agar pikirannya semakin luas malah dengan sengaja menyempitkan keilmuan sendiri dan hanya modal husnudzon. Sebetulnya jika hanya modal husnudzon saja, maka kera pun bisa dihusnuzoni sebagai zuriah nabi, namun apa daya, pemikiran orang-orang yang diberi amanat sebagai wakil para ribuan santri yang tidak terkenal untuk agar bisa menyampaikan yang benar ya benar dan yang salah ya salah, malah tidak mengerti apa maksudnya perwakilan santri.
Alasan takut kualat dan mencari aman adalah solusi bagi orang yang takut kehilangan martabat sebagai pendakwah
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Melawan Angin (Bagian 1774)
Catatan Wartawan: Hari Pers Nasional di Kabupaten Cianjur
Obsesi Kekuasaan: Ketika Rakyat Kritik Dijawab Makian "Ndasmu!" (1)
Obsesi Kekuasaan: Ketika Rakyat Kritik Dijawab Makian "Ndasmu!" (2)
Mempertanyakan Super Air Jet yang Makin Parah
Antusias Semua Kalangan: Kerja Bakti Bagian dari Mempererat Tali Persaudaraan antar Masyarakat
Mutiara Pagi: Melawan Arus (Bagian 1775)
Mengenal Sayyid Ajall Syamsudin Umar Al Bukhori Leluhurnya Wali Songo
Ketika Suara Tak Lagi Didengar
Stategi dan Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional