Entrepreneur: Pesan Tren bagi Pesantren

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 16 Februari 2025 | 09:15 WIB

Entrepreneur Santri: Antara Spiritualitas dan Kapitalisme Islami

Membangun jiwa entrepreneur di kalangan santri tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan material semata. Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dalam ekonomi Islam, prinsip mudharabah dan musyarakah menekankan pentingnya berbagi keuntungan dengan adil dalaam usaha.

Dengan demikian, santri yang menjadi entrepreneur hendaknya menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam setiap aktivitas bisnisnya. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga menanamkan keberkahan dalam setiap transaksi. Mereka tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga membangun manfaat bagi kemanusiaan.

Itulah esensi dari rahmatan lil ‘alamin yang harus menjadi landasan dalam setiap langkah santri yang ingin menjadi entrepreneur. Keberkahan rezeki hanya bisa dicapai dan diusahakan dengan kejujuran. Hal tersebut adalah ajaran fundamental yang banyak dikaji dalam banyak kitab kuning yang diajarkan di pondok pesantren.

Di sisi lain, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam harus merancang kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Pelajaran tentang ekonomi Islam, pemasaran digital, dan strategi bisnis modern harus mulai diajarkan dengan lebih sistematis. Jadi, pesantren tidak hanya menjadi tempat mencetak ulama, tetapi juga menjadi tempat lahirnya ekonom dan entrepreneur muslim yang tangguh.

Santri Berdaya, Umat Sejahtera

Kegiatan seminar tersebut adalah langkah konkret dalam membangun kesadaran entrepreneur di kalangan santri. Namun, kesadaran saja tidaklah cukup. Tindak lanjut berupa pelatihan keterampilan, mentoring bisnis, serta akses kepada modal usaha merupakan sejumlah hal yang harus diperhatikan.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal sosok seperti Abdurrahman bin Auf. Ia adalah sahabat Rasulullah yang menjadi pengusaha sukses namun tetap dermawan. Ia tidak hanya kaya, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan sesama.

Model seperti itulah yang perlu ditanamkan dalam jiwa para santri. Mereka harus memiliki mental baja untuk berjuang dalam bisnis. Namun, mereka tetap rendah hati dan peduli terhadap sesama.

Era disrupsi adalah era yang penuh tantangan, tetapi juga banyak peluang. Pesantren yang selama ini dikenal sebagai tempat pendidikan keislaman harus bisa menjelma menjadi pusat inovasi ekonomi berbasis syariah. Dengan kata lain, santri harus siap menghadapi dunia yang terus berubah, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman hidupnya.

Entrepreneur adalah pesan tren bagi pesantren. Ia bukan sekadar wacana, tetapi panggilan zaman yang harus dijawab dengan kesungguhan. Jika pesantren mampu menumbuhkan jiwa entrepreneur di kalangan santri, kita tidak hanya melihat lahirnya pengusaha muslim yang sukses. Kita juga akan menyaksikaan terbentuknya masyarakat yang lebih mandiri dan sejahtera. Inilah masa depan yang kita harapkan: santri yang tidak hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga tangguh dalam menghadapi realitas ekonomi yang terus berubah.

*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, fourder Pena Hukum Nusantara, dan dosen Polinema.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X