Oleh Mohamad Sinal
Ketua Nusantara Gilang Gemilang (NGG) Madura Raya, Miftahol Anwar, menggelar seminar ilmiah di lingkungan pesantren. Bertajuk, Menumbuhkembangkan Jiwa Entrepreneur Siswa di Era Disrupsi, di SMPI-MA Mambaul Ulum Ganding, Sumenep. Hal tersebut merupakan pesan tren bagi pesantren.
Lembaran kitab adalah hal yang senantiasa dibaca dan dihafal oleh santri. Suara takbir selalu menggema dalam keheningan menyambut mentari pagi. Begitulah jiwa-jiwa muda di pesantren, memulai kegiatan setiap hari.
Namun di balik itu semua, sejatinya terdapat benih-benih yang luar biasa jika selalu diasah. Di antaranya adalah benih entrepreneur yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam. Di era disrupsi ini, bagaimana benih tersebut bisa tumbuh subur?
Pesantren yang selama ini dikenal sebagai pusat keilmuan Islam, telah banyak mengajarkan renungan yang mendalam. Ia juga bisa menjadi lumbung kreativitas dan inovasi ekonomi. Dikatakaan demikian, karena pesantren dan ekonomi bukanlah dua dunia yang terpisah.
Keduanya saling berkelindan. Sejarah mencatat bahwa banyak ulama besar juga merupakan pedagang sukses. Pertanyaanya adalah bagaimana di zaman yang serba digital dan era disrupsi yang mengguncang segala sendi kehidupan? Mampukah pesantren menerjemahkan nilai-nilai lama ke dalam realitas yang baru?
Jiwa Wirausaha: Menyambung Tradisi dengan Inovasi
Kegiatan seminar tersebut bukan sekadar wacana intelektual. Ia adalah percikan api yang tidak hanya membakar semangat santri untuk menjadi pemikir. Ia adalah nyala api agar para santri menjadi pelaku.
Santri harus beradaptasi dan berinovasi, ujar Muntaha. Kata-kata tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan sebuah ajakan untuk bertindak. Bertindak yang dapat membawa manfaat bagi ummat.
Oleh sebab itu, entrepreneurship bukan hanya soal berdagang. Ia adalah seni membaca peluang. Kecerdasan dalam menyusun strategi dan keberanian dalam mengambil resiko yang terjadi.
Adapun jiwa entrepreneur adalah ketajaman dalam melihat perubahan. Kesabaran dalam menghadapi tantangan. Kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya yang ada.
Seorang santri yang memiliki mental entrepreneur adalah mereka yang tidak sekadar membaca kitab. Namun, memahaminya lalu mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Mereka dapat menerjemahkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi aksi nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Di era disrupsi, ekonomi berbasis digital telah memiliki peran yang dominan. Perdagangan tidak lagi terbatas pada pasar tradisional, tetapi juga merambah dunia maya. Media sosial, platform e-commerce, dan strategi pemasaran digital telah menjadi alat yang sangat efektif untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Santri yang terbiasa dengan kedisiplinan belajar dan berpikir sistematis memiliki potensi besar untuk menguasai bidang tersebut. Mereka hanya perlu diberikan wawasan yang lebih luas. Dorongan yang lebih kuat dan keyakinan bahwa menjadi entrepreneur adalah bagian dari sunnah kehidupan.
Artikel Terkait
Jelang Ramadan, DKM Masjid DPP Partai Golkar Gelar Istigosah dan Pengajian Al-Quran
Geram, LBH PC GP Ansor dan LPBH NU Majalengka Dampingi Anak Korban Eksploitasi Seksual
Perkuat Basis Ekonomi, GP Ansor Cianjur Dorong Terciptanya Organisasi yang Unggul secara Kolektif
Mutiara Pagi: Tribrata (Bagian 1772)
Resmi Dilantik, DEMA dan SEMA STAI Al-Azhary Cianjur Periode 2025-2026 Siap Bersinergi
Kerjasama dengan Manuskripedia, UNISLA Gelar Seminar Warisan Sunan Giri dan Resmikan Pusat Studi Kajian Manuskip
Efisiensi Anggaran Pendidikan, BEMPTNU Jawa Barat Tuntut Pemerintah Teliti dalam Menyusun Kebijakan
Sekolah Kedaulatan Energi dan Seminar Nasional: Membangun Kolaborasi untuk Masa Depan Energi Jawa Barat
Progres Pemekaran Cianjur Selatan Sudah di Kemendagri RI, Tinggal Menunggu Moratorium Dicabut
Mutiara Pagi: Rintihan Seorang Hamba (Bagian 1773)