Entrepreneur: Pesan Tren bagi Pesantren

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 16 Februari 2025 | 09:15 WIB

Oleh Mohamad Sinal

Ketua Nusantara Gilang Gemilang (NGG) Madura Raya, Miftahol Anwar, menggelar seminar ilmiah di lingkungan pesantren. Bertajuk, Menumbuhkembangkan Jiwa Entrepreneur Siswa di Era Disrupsi, di SMPI-MA Mambaul Ulum Ganding, Sumenep. Hal tersebut merupakan pesan tren bagi pesantren.

Lembaran kitab adalah hal yang senantiasa dibaca dan dihafal oleh santri. Suara takbir selalu menggema dalam keheningan menyambut mentari pagi. Begitulah jiwa-jiwa muda di pesantren, memulai kegiatan setiap hari.

Namun di balik itu semua, sejatinya terdapat benih-benih yang luar biasa jika selalu diasah. Di antaranya adalah benih entrepreneur yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam. Di era disrupsi ini, bagaimana benih tersebut bisa tumbuh subur?

Pesantren yang selama ini dikenal sebagai pusat keilmuan Islam, telah banyak mengajarkan renungan yang mendalam. Ia juga bisa menjadi lumbung kreativitas dan inovasi ekonomi. Dikatakaan demikian, karena pesantren dan ekonomi bukanlah dua dunia yang terpisah.

Keduanya saling berkelindan. Sejarah mencatat bahwa banyak ulama besar juga merupakan pedagang sukses. Pertanyaanya adalah bagaimana di zaman yang serba digital dan era disrupsi yang mengguncang segala sendi kehidupan? Mampukah pesantren menerjemahkan nilai-nilai lama ke dalam realitas yang baru?

Jiwa Wirausaha: Menyambung Tradisi dengan Inovasi

Kegiatan seminar tersebut bukan sekadar wacana intelektual. Ia adalah percikan api yang tidak hanya membakar semangat santri untuk menjadi pemikir. Ia adalah nyala api agar para santri menjadi pelaku.

Santri harus beradaptasi dan berinovasi, ujar Muntaha. Kata-kata tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan sebuah ajakan untuk bertindak. Bertindak yang dapat membawa manfaat bagi ummat.

Oleh sebab itu, entrepreneurship bukan hanya soal berdagang. Ia adalah seni membaca peluang. Kecerdasan dalam menyusun strategi dan keberanian dalam mengambil resiko yang terjadi.

Adapun jiwa entrepreneur adalah ketajaman dalam melihat perubahan. Kesabaran dalam menghadapi tantangan. Kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya yang ada.

Seorang santri yang memiliki mental entrepreneur adalah mereka yang tidak sekadar membaca kitab. Namun, memahaminya lalu mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Mereka dapat menerjemahkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi aksi nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Di era disrupsi, ekonomi berbasis digital telah memiliki peran yang dominan. Perdagangan tidak lagi terbatas pada pasar tradisional, tetapi juga merambah dunia maya. Media sosial, platform e-commerce, dan strategi pemasaran digital telah menjadi alat yang sangat efektif untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Santri yang terbiasa dengan kedisiplinan belajar dan berpikir sistematis memiliki potensi besar untuk menguasai bidang tersebut. Mereka hanya perlu diberikan wawasan yang lebih luas. Dorongan yang lebih kuat dan keyakinan bahwa menjadi entrepreneur adalah bagian dari sunnah kehidupan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB
X