Jurus ampuh Pemerintah untuk menggenjot produksi beras setinggi-tingginya melalui kebijakan pertambahan luas tanam dan percepatan masa tanan, diharapkan bakal mampu mempercepat tercapainyq swasembada pangan. Masalahnya adalah apakah kita akan mampu menghalau tantangan iklim ekstrim yang ditengarai akan mengganggu upaya peningkatan produksi ?
Inilah "pe-er" berat bangsa ini. Pengalaman El Nino tahun lalu menyadarkan kita, sergapan iklim ekstrim, ternyata mampu mengganggu ketersediaan beras secara nasional. Selain itu, produksi beras yang anjlok, harga beras di pasat yang melejit dan impor beras dengan angka cukup fantastis, membuat bangsa ini tampak kedodoran dalam memperkuat ketahanan pangan bangsa dan negara.
Semoga optimisnya Pemerintah tahun 2025, yang telah mengisyaratkan bangsa ini tidak akan impor beras, bukan hanya sebuah ungkapan politik, namun akan ditopang oleh ketersediaan beras dalam negeri yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Disinilah peran Bulog sangat diminrakan. Kita percaya, rasa optimis Pemerintah di era Prabowo akan dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata di lapangan, sekaligus titik awal pencapaian swasembada pangan. (PENULIS, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT).
Artikel Terkait
Gandeng Kebersamaan, Ketua RT Terpilih Dahulukan Kepentingan Masyarakat
Mutiara Pagi: Tiga Puluh Januari (Bagian 1757)
Isra’ Mi’raj dan Realita Umat - 04
Maling Lahan Negara Berkedok HGB dan HGU Merebak, Landreform Tinggal Slogan (Bag 1)
Maling Lahan Negara Berkedok HGB dan HGU Merebak, Landreform Tinggal Slogan (Bag 2)
Mutiara Pagi: Benang Tipis (Bagian 1758)
Ketika Hati Mulai Mati, Ke Mana Kita Harus Mencari Cahaya?
Teori Kuda Mati (Dead Horse Theory)
Isra’ Mi’raj dan Realita Umat - 05
Mutiara Pagi: Setiap Februari Tiba (Bagian 1759)