Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang diberi taufik dan hidayah oleh Allah SWT untuk meraih husnul khatimah, sehingga ketika tiba saatnya menghadap Sang Khalik, kita disambut dengan ridha-Nya dan ditempatkan di surga-Nya yang abadi.
Untuk menggapai husnul khatimah, para ulama menganjurkan beberapa ikhtiar yang dapat dilakukan oleh setiap Muslim antara lain:1. Menjaga Iman dan Ketakwaan secara Istiqamah: Selalu bertakwa kepada Allah SWT di mana pun dan kapan pun kita berada. Husnul khatimah harus diupayakan secara terus-menerus dan selalu dimintakan kepada Allah SWT agar diberi husnul khatimah. 2. Memperbaiki Lahir dan Batin: Membersihkan niat dan tujuan dalam beramal, semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT. Berusaha sungguh-sungguh memperbaiki diri, baik secara lahiriah maupun batiniah.3. Berdoa agar Diwafatkan dalam Keadaan Iman: Memohon kepada Allah SWT agar diwafatkan dalam keadaan Islam dan dijauhkan dari fitnah dunia dan akhirat. Doa menjadi senjata ampuh bagi seorang Muslim dalam mengharap husnul khatimah.4.Senantiasa Berdzikir kepada Allah dalam Segala Keadaan: Menguatkan hubungan dengan Allah SWT melalui dzikir, sehingga hati selalu mengingat-Nya. Dengan berdzikir, kita dapat menjaga hati dari godaan setan yang berusaha menyesatkan di saat akhir menjelang kematian.
Selain itu, terdapat tanda-tanda yang menunjukkan seseorang meninggal dalam keadaan husnul khatimah, antara lain: Mengucapkan Kalimat Syahadat saat Wafat: Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang akhir perkataannya 'La ilaha illallah' maka dia akan masuk surga.". Hal lain adalah Meninggal dengan Keringat di
Dahi: Rasulullah SAW bersabda, "Kematian seorang mukmin ditandai dengan keringat di dahi."
Termasuk Meninggal pada Hari atau Malam Jumat: Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang Muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur."
Dengan memahami dan mengamalkan ikhtiar-ikhtiar tersebut, serta mengenali tanda-tanda husnul khatimah, semoga kita semua dapat meraih akhir kehidupan yang baik dalam naungan ridha Ilahi.
*HUSNUL KHATIMAH MENURUT ISLAM*
Keadaan seseorang saat tutup usia memiliki nilai tersendiri, karena balasan baik dan buruk yang akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia. Sebagaimana dalam hadits yang shahih :
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ رواه البخاري وغَيْرُهُ.
“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya”. [HR Bukhari dan selainnya]
Oleh sebab itulah, seorang hamba Allah yang shalih sangat merisaukannya. Mereka melakukan amal shalih tanpa putus, merendahkan diri kepada Allah agar Allah memberikan kekuatan untuk tetap istiqamah sampai meninggal. Mereka berusaha merealisasikan wasiat Allah Azza wa Jalla :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri) ”. [Ali Imran/3 : 102]
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dalam Shahih-nya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, dia mengatakan :
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: إِِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلُّهَا بَيْنَ أَصْبَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلَ اللهِ : اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu”.
Itulah pentingnya kondisi tutup usia. Sementara itu, kondisi seseorang pada detik-detik terakhir kehidupannya ini, tergantung amal perbuatan pada masa lampau. Barangsiapa yang berbuat baik di saat waktu dan usianya memungkinan, maka insya Allah akhir hidupnya baik. Dan jika sebaliknya, maka sudah tentu kejelekan yang akan menimpanya. Allah tidak akan pernah menzhaliminya, meskipun sedikit.
Mengingat pentingnya masalah ini dan keharusan memperhatikannya, maka dengan memohon kepada Allah, tulisan ini kami angkat untuk menjadi pengingat kita semua.
*HUSNUL KHATIMAH*
Husnul khatimah (حُسْنُ الْخَاتِمَةِ), adalah akhirnya yang baik. Yaitu seorang hamba, sebelum meninggal, ia diberi taufiq untuk menjauhi semua yang dapat menyebakan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia bertaubat dari dosa dan maksiat, serta semangat melakukan ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi ini. Lawan dari kondisi ini di istilahkan dengan Suul khatimah (سُوءُ الْخَاتِمَةِ) ,adalah akhir kehidupan yang buruk, ketika seseorang meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah atau melakukan maksiat.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Saksi Hidup (Bagian 1736)
Khidmat dan Berkah: Haul Masyayikh dan Isra Mi'raj Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafy
Cianjur Selatan: Potensi dan Tantangan
Menyulam Doa di Hari Spesial Vani Zakiyah
Mutiara Pagi: Kekuasaan (Bagian 1737)
Harmoni Tawasul dan Kepedulian: Mapala Cianjur Bersatu untuk Menebar Kebaikan
Jasad Telah Pergi Namun Jejak Tak Pernah Hilang
Jangan Bosan Bicara Beras
Kluivert Pelatih Timnas Indonesia Gantikan Shin Tae-yong
Acungan Jempol Pj Gubernur Jabar Berpihak ke Pertanian