Penyakit PBP: Merusak Harmoni dan Disrupsi Sosial

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 30 Desember 2024 | 12:00 WIB
Tibet, negeri yang dikenal sebagai "Atap Dunia," menyimpan sebuah cerita unik tentang harmoni antarumat beragama. (Foto: Ojildepijil)
Tibet, negeri yang dikenal sebagai "Atap Dunia," menyimpan sebuah cerita unik tentang harmoni antarumat beragama. (Foto: Ojildepijil)

Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat pendidikan moral dan agama yang mengajarkan pentingnya kasih sayang, baik kepada keluarga, tetangga, maupun orang yang membutuhkan. Salah satu cara untuk mewujudkan hal ini adalah dengan aktif dalam kegiatan sosial, berbagi dengan yang membutuhkan, dan memberikan perhatian kepada orang yang sedang mengalami kesulitan.

*Penyatuan Nilai Agama dan Budaya Bugis-Makassar*

Dalam perspektif budaya Bugis-Makassar, Pabbelleng, Bali'bella', dan Pettu Perru adalah sifat-sifat yang sangat merusak keharmonisan dalam masyarakat. Namun, masyarakat Bugis-Makassar juga memiliki nilai-nilai budaya yang kuat seperti Sipakainga, Sipakatau, dan Sipaka Lebbi yang menekankan pentingnya saling menghargai, saling membantu, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

*Sipakainga (saling menjaga)*
mengajarkan kita untuk menjaga hubungan yang baik dengan sesama, menjunjung tinggi kejujuran, dan tidak menipu atau berbohong.

*Sipakatau (saling menghormati)* mengajarkan untuk menghormati komitmen, kata-kata, dan janji yang telah dibuat. Ini adalah solusi untuk mengatasi sifat Bali'bella' (ketidak-konsistenan).

*Sipaka Lebbi (saling memberi)* mengajarkan tentang pentingnya berbagi dan berbelas kasih terhadap sesama, yang merupakan solusi untuk mengatasi Pettu Perru (ketidakpedulian atau kurangnya belas kasih).

Sehingga dengan demikian maka Ketiga sifat buruk tersebut, yaitu Pabbelleng, Bali'bella', dan Pettu Perru, tidak hanya merusak hubungan sosial dalam masyarakat Bugis-Makassar, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan pentingnya kejujuran, konsistensi, dan kasih sayang.

Untuk mengatasi ketiga sifat buruk ini, kita harus melakukan upaya pendidikan yang berkelanjutan untuk menumbuhkan nilai-nilai kejujuran, konsistensi, dan kepedulian terhadap sesama, baik melalui ajaran agama maupun pembentukan karakter dalam masyarakat.

1. *Untuk mengatasi Pabbelleng:* Masyarakat harus diajarkan untuk menghindari kebohongan, dengan menekankan bahwa kejujuran adalah salah satu ciri orang beriman. Pendidikan agama dan etika harus ditanamkan agar generasi muda tidak terjebak dalam kebohongan.

2. *Untuk mengatasi Bali'bella*': Konsistensi dalam ucapan dan perbuatan adalah kunci. Pendidikan moral dan agama harus menekankan pentingnya memenuhi janji dan menjaga amanah. Orang yang tidak konsisten harus diajarkan untuk memperbaiki perilakunya agar bisa dipercaya oleh masyarakat.

3. *Untuk mengatasi Pettu Perru:* Kepekaan terhadap penderitaan orang lain harus ditumbuhkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajarkan kasih sayang, kepedulian sosial, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial. Masyarakat yang peduli akan membantu mereka yang membutuhkan dan memberi perhatian kepada orang yang sedang kesulitan.

Dengan mengimplementasikan nilai-nilai agama dan budaya Bugis-Makassar yang mengutamakan kejujuran, konsistensi, dan kasih sayang, masyarakat dapat menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan penuh kasih sayang.

*PENUTUP/KESIMPULAN*

Sebagai penutup dari perjalanan panjang ini, kita telah diajak untuk menyelami kedalaman makna dan implikasi dari tiga sifat buruk yang menggerogoti tatanan sosial kita: Pabbelleng (pembohong), Bali'bella' (munafik), dan Pettu Perru (tidak berbelas kasih).

Sifat-sifat ini, meskipun tampaknya menjadi bagian dari kenyataan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya bukanlah jalan yang seharusnya kita pilih. Mereka adalah serpihan dari kehancuran nilai-nilai luhur yang telah diwariskan kepada kita oleh para leluhur dan ajaran agama kita.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X