Ketiga sifat ini bukan hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip moral dalam budaya Bugis-Makassar, tetapi juga dengan ajaran Islam yang mengajarkan nilai-nilai integritas, kejujuran, kasih sayang, dan kepekaan terhadap penderitaan sesama.
1. *Pabbelleng (Pembohong/Tukang Bohong) dalam Perspektif Agama dan Budaya Bugis-Makassar*
Makna dalam Budaya Bugis-Makassar: Pabbelleng, dalam pengertian yang lebih tepat, bukan hanya bermakna sombong, tetapi merujuk pada sifat pembohong, tukang bohong, atau orang yang suka menipu dan mengelabui orang lain.
Sifat ini adalah manifestasi dari ketidakjujuran yang berbahaya dalam masyarakat, karena menumbuhkan ketidakpercayaan, konflik, dan kerusakan dalam hubungan sosial.
*Manifestasi Kekinian:*
*Sosial:* Seseorang yang suka berbohong untuk kepentingan pribadi atau menghindari tanggung jawab.
*Politik:* Pemimpin yang mengumbar janji palsu dan menipu rakyat demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
*Keagamaan:* Seseorang yang melakukan riya atau berpura-pura beribadah hanya untuk dilihat orang lain.
Didalam Al-Qur'an Allah SWT. telah menegaskan dalam firman-Nya:
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّـهِ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ
(“Sesungguhnya yang membuat kebohongan itu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan merekalah orang-orang yang berdusta.”)
(QS. An-Nahl: 105)
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa kebohongan hanya dilakukan oleh orang yang tidak beriman. Kebohongan merusak hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Pabbelleng, sebagai tukang bohong, jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya kejujuran.
Sekian halnya Rasulullah SAW. didalam Hadisnya telah bersabda :
إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَىٰ الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَىٰ النَّارِ
(“Hati-hatilah kalian dengan kebohongan, karena kebohongan itu membawa kepada kefasikan, dan kefasikan itu membawa kepada neraka.”)
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa bahayanya kebohongan. Kebohongan yang dilakukan oleh seseorang tidak hanya merusak hubungan sosial tetapi juga dapat membimbingnya ke dalam dosa yang besar, yaitu masuk neraka. Dalam konteks Pabbelleng, sifat ini adalah bentuk kefasikan yang membawa kehancuran.
Sejakan dengan itu khalifah Ali bin Abu Thalib RA. dalam Qaulnya berkata "Sesungguhnya kebohongan adalah sifat orang munafik. Orang yang beriman harus menjaga lisannya." (Ali bin Abi Talib)
Khalifah Ali bin Abi Talib RA. mengajarkan bahwa orang yang berbohong menunjukkan tanda-tanda kemunafikan. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kejujuran dalam berbicara, karena kebohongan merusak hubungan, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
*Solusi Dalam Mengatasi sifat Panbelleng*
Artikel Terkait
Melihat Stasiun Gombong di Kebumen
Pemberontakan Trunojoyo terhadap Mataram
Mutiara pagi: Nahkoda Kehidupan (Bagian 1724)
PMII STISNU Cianjur Gelar Raker dan Talkshow: Membangun Kader Profesional dan Humanis
Mendung: Benarkah Isyarat Hujan Akan Segera Turun?
Terima Jurnalis Santri, KH Maruf Amin Bicara Pentingnya Menghadapi Era Post Truth
Mutiara pagi: Tentang Kehidupan (Bagian 1725)
Perempuan Digdaya: Webinar BEM PTNU Jabar Serukan Kesetaraan Gender dan Perubahan Sosial
Andil PT Pupuk Indonesia Percepat sampai ke Petani
Impor Beras