Penyakit PBP: Merusak Harmoni dan Disrupsi Sosial

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 30 Desember 2024 | 12:00 WIB
Tibet, negeri yang dikenal sebagai "Atap Dunia," menyimpan sebuah cerita unik tentang harmoni antarumat beragama. (Foto: Ojildepijil)
Tibet, negeri yang dikenal sebagai "Atap Dunia," menyimpan sebuah cerita unik tentang harmoni antarumat beragama. (Foto: Ojildepijil)

3. *Pettu Perru (Tidak Berbelas Kasih/Tidak Sensitif) dalam Perspektif Agama dan Budaya Bugis-Makassar*

Makna dalam Budaya Bugis-Makassar: Pettu Perru menggambarkan ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain, baik dalam bentuk ketidakpekaan sosial maupun pengabaian terhadap kebutuhan sesama.

Sifat ini sangat bertentangan dengan nilai pacce (kepekaan terhadap penderitaan orang lain) yang menjadi bagian integral dari budaya Bugis-Makassar.

*Manifestasi Kekinian:*

*Individualisme:*
Ketidakpedulian terhadap orang lain yang sedang menderita.

*Eksploitasi Sosial:*
Pengabaian terhadap hak-hak pekerja atau orang yang lebih lemah.

*Kurangnya Solidaritas:* Ketidakpedulian terhadap korban bencana atau kesulitan.

Terkait dengan konsisi seperti ini maka alquran memberi arahan dan tuntunan , diantaranya :
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ * وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
(“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”)
(QS. Ad-Dhuha: 9-10)

Al-Qur'an mengajarkan untuk tidak berlaku kasar atau mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan, baik itu anak yatim atau orang yang sedang kesulitan. Pettu Perru adalah ketidakpedulian terhadap mereka yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian.

Senada dengan peringatan Allah SWT. didalam al-Qur’an, Rasulullah SAW. juga dalam Haditsnya telah menyatakan:
Hadis Nabi :
مَن لا يَرْحَمُ النَّاسَ لا يَرْحَمُهُ اللَّهُ
(“Barang siapa yang tidak memiliki belas kasih terhadap sesama manusia, maka Allah tidak akan memberikan belas kasih kepadanya.”)
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan betapa pentingnya sikap belas kasih dalam Islam. Pettu Perru, atau ketidakpedulian terhadap orang lain, sangat bertentangan dengan prinsip belas kasih yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Mereka yang tidak berbelas kasih terhadap sesama akan kehilangan rahmat dari Allah. Dalam konteks ini, Pettu Perru bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menghambat keberkahan dan rahmat Allah dalam hidup seseorang.

Seiring dengan penyampaian Nabi Muhammad SAW. Dalam sabda-sabda menyatakan “Barang siapa yang ingin mendapatkan kasih sayang Allah, hendaknya dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya." (Umar bin Khattab)

Khalifah ke-2 Amiral Mukminin Umar bin Khattab RA. mengajarkan bahwa kasih sayang kepada sesama manusia adalah kunci untuk mendapatkan kasih sayang dari Allah. Pettu Perru, yang mencerminkan ketidakpedulian dan kekurangan dalam memberi kasih sayang, harus dihindari karena dapat menghalangi seseorang dari merasakan kasih sayang Allah. Sifat ini juga merusak tatanan sosial dan memperlemah rasa solidaritas dalam masyarakat.

*Solisi untuk Mengatasi Pettu Perru (Tidak Berbelas Kasih):*

Untuk mengatasi Pettu Perru, kita harus menumbuhkan rasa empati dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X