Guilt Trip, Perilaku Tidak Bijaksana dan Merusak

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Rabu, 14 Agustus 2024 | 19:44 WIB
Gambar : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag, Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.
Gambar : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag, Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.

Oleh : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag

Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.

Gambar : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag, Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.
Gambar : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag, Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.

JournalNusantara.com/ Opini - Dalam konteks Psikologi, Guilt Trip adalah suatu bentuk komunikasi, baik verbal maupun nonverbal, yang digunakan oleh seseorang terhadap korban atau orang yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu.

Guilt Trip adalah tindakan yang sangat tidak bijaksana seolah-olah diri seseorang itu tidak bisa berubah ke arah yang lebih baik setelah melalukan kesalahan di masa lalunya. Bahkan jauhnya bisa masuk kepada perilaku dzolim karena bisa merusak peluang dan masa depan seseorang.

Dari sekian banyak karakter gulit trip, diantara tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

1. Selalu mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan korban pada masa lalu. Jika betul faktanya korban pernah melakukan kesalahan, dipersepsinya seolah-seolah kesalahan itu menjadi perilaku establish sampai sekarang (sama sekali tidak ada perubahan menjadi baik). Jika ternyata memahami kesalahan korban itu setengah-tengah tetap dianggapnya seolah-olah sangat paham bahwa kesalahan itu adalah aib yang besar.

Baca Juga: Partai Golkar Laksana Pohon Rindang Tumbang di Tangan Seorang Tukang Kayu, Benarkah ?

2. Melempar komentar atau melakukan perilaku seolah-olah korbannya tidak melakukan suatu hal yang lebih baik sekarang dari yang pelaku lakukan di masa lalunya.

3. Mengungkit kebaikan atau pengorbanan yang sudah pernah dilakukan terhadap penyelesaian kesalahan yang dilakukan korban. Akan tetapi selalu diungkit-ungkit ke orang lain agar aib korban diketahui publik. Dan parahnya orang yang mengungkit tersebut kalau diikuti motif menutup potensi dan peluang korban yang sudah melakukan perbaikan-perbaikan diri. Dan ini tindakan dholim karena merusak.masa depan korban yang sudah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

4. Melakukan silent treatment dalam bentuk komunikasi pasif-agresif dengan melempar komentar sarkastis dan stigmatik atas dasar peristiwa masa lalu agar orang yang terpengaruh untuk melakukan persepsi negatif kepada korban.

5. Melakukan generalisasi akut terhadap korban. Bahwa kesalahan yang dilakukan korban di masa lalu akan terus dilakukannya sampai sekarang. Dan itu akan mengotori atau mencemari lingkungan kalau saat ini korban diberikan peluang berkiprah. Kesimpulan seolah-olah manusia tidal beribah dan akan selalu dalam kesalahannya di masa lalu. Guilt trip ini sudah ditambah logika sesat.

Karakter perilaku guilt trip ini kalau dibiarkan, maka akibatnya adalah: 1). Akan menimbulkan komunikasi dan interaksi yang tidak sehat; 2) Akan melukai harga diri dan mengganggu kesehatan mental korban yang sudah berubah; 3) Akan lahir tradisi mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu orang lain seolah-seolah tidak ada perubahan, 4), Akan merusak akal pikiran yang sehat banyak.orang, karena sipelaku guilt trip akan selalu mendramatisir keadaan seolah-olah paling suci dengan menebar aib masal lalu korban untuk mendapat simpati banyak orang, dan; 5) Akan menciptakan tradisi kebencian sosial termasuk melibatkan orang yang tidak mengetahui masalah yang sebenarnya.

Baca Juga: Ketulusan Hati Masih Adakah Kini ?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X