Persatuan: Menghargai Perbedaan dan Membangun Sinergi untuk Kemaslahatan Umat dan Bangsa

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 16 Juli 2024 | 13:09 WIB
Ilustrasi umat muslim sedang melaksanakan shalat idul adha. (pixabay)
Ilustrasi umat muslim sedang melaksanakan shalat idul adha. (pixabay)

Oleh: Munawir K

Perbedaan pendapat dalam masyarakat, baik yang terkait dengan mazhab agama maupun afiliasi politik, sering kali menjadi sumber perpecahan dan konflik.

Islam mengajarkan nilai-nilai persatuan, toleransi, dan akhlak mulia yang seharusnya menjadi pedoman dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Dengan memahami dan mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam, umat dapat bersinergi untuk membangun bangsa yang maju dan harmonis, serta mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Islam menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan persatuan di antara umat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan adalah kehendak Allah yang bertujuan agar kita saling mengenal dan menghormati satu sama lain.

Kriteria kemuliaan di sisi Allah bukanlah perbedaan suku, bangsa, atau mazhab, melainkan ketakwaan.

Perbedaan Mazhab dan Politik

Fanatisme golongan (ta'assub mazhabi) dan afiliasi politik yang berlebihan dapat merusak persatuan umat. Para ulama menegaskan pentingnya memahami bahwa setiap mazhab memiliki dasar-dasar yang sahih dan bisa dipertanggungjawabkan. Imam Syafi'i berkata:

رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ
“Pendapatku benar namun bisa jadi salah, pendapat orang lain salah namun bisa jadi benar.

Pernyataan ini mengajarkan kita untuk terbuka terhadap perbedaan dan selalu mempertimbangkan kemungkinan kesalahan dalam pandangan kita sendiri.

Menghindari Perpecahan dan Menjaga Akhlak dalam Berdiskusi

Allah SWT berfirman:

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Sumbu Filosofis Yogyakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X