Islam bahkan mengajarkan “berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan” atau “fastabiqul khairat”. Allah berfirman yang artinya, “Artinya: "Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya.
Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Baqarah: 148).
Jadi kenapa harus takut berbuat baik, hatta di dalam hidup ini harus menghadapi banyak keburukan. Dunia yang buruk justru harus dihilangkan dan diganti dengam yang baik. Bukan dengan menjauhi dunia dan anti kehidupan.
Masalah memang selalu ada untuk dihadapi dan dicarikan solusi. Tapi jangan serba pesimis dan negatif dalam menghadapi dunia, serumit apapun, jika orang beriman percaya dapat berbuat ihsan.
Allah mengingatkan orang beriman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216).
Masalah bisa datang dan pergi dalam hidup pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan dalam relasi semesta. Semuanya untuk disikapi dan dihadapi.
Ada yang bisa diselesaikan, boleh jadi ada yang tidak terselesaikan sebagaimana mestinya. Jangan diratapi. Apalagi disikapi dengan amarah, sesal, kebencian, dan segala luapan negatif.
Ambillah spirit dan nilai Surat al-Insyirah (Kelapangan) dalam menghadapi masalah. Allah berfirman yang artinya: “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu.
Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan sebutan nama (mu) bagimu. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS 94: 1-8).
Hadapi masalah dengan juwa ihsan, yakni beribadah dan bermualamah yang terbaik karena Allah menyertai hidup setiap insan beriman. Ihsan melahirkan amal shaleh yang prokehidupan.
Masalah jangan memenjara diri menjadi sosok yang garang, pendendam, pemarah, dan penyebar energi negatif atasnama apapun. Apalagi menjadi sosok yang serba negatif dan anti kehidupan dengan jiwa fanatik buta dan ekstrem.
Jangan pula disertai sikap merasa paling bersih dan suci, baik dalam beragama maupun memandang kehidupan dunia. Jika hidup merasa paling benar dan paling lurus, justru di dalamnya ada benuh takabur diri yang justru dilarang Tuhan dan Nabi.
Ingatlah setiap insan itu pada dasarnya lemah dan memiliki kelemahan, maka jangan gampang menghakimi dan menghujat orang lain dengan semuci diri.
Tazakku atau merasa diri paling bersih dan suci itu tidak dibenarkan Tuhan. Allah SWT mengingatkan yang artinya, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm : 32)
Artikel Terkait
Belajar Public Speaking Kepada Nabi dalam Kitab Syamail Muhammadiyah
AI Pengoreksi Bacaan Quran
Isu Nasab Jalan di Tempat
Memaknai Haji, Kurban dan Hijrah
Keimigrasian Digital di Bandara dan Pelabuhan Utama Telah Pulih
Asah Mental, Prajurit Batalyon Arhanud 2 Marinir Laksanakan Try Out
Bisik dalam Gelombang
Melihat Kesiapan KAI sebagai Tuan Rumah ASEAN Railways CEO’s Conference ke-44
Menakar Liar Pilkada Cianjur, Menguji Komitmen Politik Herman-Ibang di Pilkada 2024
Top! Potret Babinsa Koramil 1424-05/Sinjai Selatan Bantu Penyemprotan Tanaman Padi Milik Petani