Haji dan Rasisme Barat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 20 Juni 2024 | 20:22 WIB
Ilustrasi haji (Kemenag)
Ilustrasi haji (Kemenag)

Bahkan di ayat pertama Surah an-Nisa Allah menegaskan: “Wahai manusia bertakwalah kalian kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa/orang (Adam).

Berbagai ayat lainnya menegaskan hal yang sama. Ayat tentang Allah yang membentuk (termasuk ras dan warna kulit) manusia menunjukkan bahwa warna kulit dan ras adalah karunia yang Allah berikan. Bukan karena manusia yang menghendaki. “Dialah (Allah) yang membentuk kalian sesuai kehendakNya” (Al-Imran: 3).

Bahkan lebih jauh Al-Quran menegaskan jika perbedaan dan keragaman itu adalah bagian dari sunnatullah dan tanda kebesaranNya: “Dan di antara tanda-tanda kebesaranNya adalah perbedaan bahasa dan warna kalian” (Ar-Rum).

Dalam sejarah Islam pun kita kenal secara dekat bagaimana Rasulullah tegas dalam hal menjamin kesetaraan ini. Pengikut beliau pun sejak awal memilki keragaman yang luas. Ada Bilal (Afrika), Salman (Persia), Suhaeb (Roma/Putih). Tentunya bersama mereka para kaum Arab Quraish.

Saya mungkin akhiri dengan mengingatkan kembali cerita perselisihan dua sahabat yang tidak saja berbeda ras dan warna kulit. Tapi juga berbeda strata atau tingkatan sosialnya. Antara Bilal yang berkulit hitam dan mantan budak yang miskin dan Abdurrahman bin Auf yang Arab terhormat dan kaya.

Intinya perselisihan dua sahabat ini melibatkan prilaku rasis. Di mana sahabat Arab yang kaya itu merendahkan Bilal dengan menyebutnya “anak seorang Ibu hitam”. Rasulullah yang mengetahui itu dengan tegas menyatakan kepada sahabat terhormat itu: “sesungguhnya kamu adalah orang yang masih memiliki sifat jahiliyah”.

Semoga dengan memahami makna globalitas kekeluargaan kemanusiaan melalui ibadah haji umat Islam semakin tersadarkan akan tanggung jawab globalnya untuk kemanusiaan itu. Termasuk Urgensinya bagi umat ini sadar jika keislaman kita itu Universal. Tidak ada keutamaan Islam seseorang karena ras, warna kulit dan kebangsaan.

Maka tak perlu angkuh menyebut diri “Islam Nusantara” atau “Islam Arab”. Benahi saja ketakwaan kita. Itulah kemuliaan sejati. Yakin!

Manhattan, 20 Juni 2024

(Ditulis untuk mengingat Juneteenth atau hari pembebasan perbudakan warga hitam di Amerika).

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Ke Mana Para Ilmuwan Kampus?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X