JournalNusantara.com - Pendidikan menjadi soko guru pertama dan utama dalam hidup dan kehidupan manusia di bumi ini. Tiada pendidikan maka tidak akan ada ekonomi, dan ketika tidak ada kekuatan ekonomi maka tidak akan ada yang namanya negara.
Pendidikan bertransformasi menjadi lebh mudah dan sangat gampang untuk diakses, terlebih seiring dengan perkembangan informasi dan tekhnilogi.
Transformasi digital di sektor pendidikan selalu menjadi salah satu potensi bisnis bagi startup pendidikan alias edutech. Mereka merasa bahwa akses listrik dan internet bakal meningkatkan pemerataan digitalisasi. Perluasan segmen konsumen bakal menjadi rencana masa depan untuk meningkatkan portofolio.
CEO PT Sentra Vidya Utama (Sevima) Sugianto Halim mengatakan, transformasi digital untuk sektor pendidikan terus berjalan seiring dengan perkembangan akses listrik dan internet di tanah air. Dengan berbagai teknologi yang berkembang, penggunaan platform digital untuk lembaga pendidikan makin berkembang.
’’Seiring berkembangnya teknologi cloud computing, layanan digital tak lagi membutuhkan investasi besar. Saat ini, sudah banyak kampus yang mengadopsi layanan kami,’’ jelasnya saat memperkenalkan dua advisor baru di Surabaya Jumat (14/6).
Saat ini, pihaknya sendiri sudah menggaet sekitar 1200 lembaga pendidikan tinggi. Angka tersebut menyerap sekitar 26 persen dari total populasi kampus di Indonesia yang mencapai 4.500 lembaga.
Angka tersebut diakui bakal terus meningkat mengingat laju akuisisi perusahaan asal Surabaya tersebut mencapai 10-15 lembaga per bulan. Itu artinya, klien bertambah sekitar 100 lembaga per tahun.
’’Target kami bisa menguasai 50-60 persen dari layanan cloud computing untuk kampus di Indonesia,’’ ungkapnya.
Soal memperluas layanan ke luar negeri, dia mengaku masih belum punya rencana. Pasalnya, pasar edukasi di tanah air masih terlalu luas. Untuk mencapai target market share di kampus butuh waktu beberapa tahun lagi.
Setelah itu, pihaknya juga bakal memperluas ke segmen lainnya. Misalnya, pasar untuk pendidikan di lingkup perusahaan dengan sistem learning management system (LMS). Atau bahkan platform pembelajaran untuk lembaga pendidikan yang lebih dasar seperti SD, SMP, dan SMA.
’’Karena itu, kali ini kami kali ini menggandeng dua pakar pendidikan vokasi untuk menggarap potensi tersebut. Sehingga ke depan kita bisa mendapatkan pandangan yang tepat untuk mengembangkan layanan yang baru,’’ jelasnya.
Wikan Sakarinto, advisor Sevima, mengatakan, segmen vokasi di lembaga pendidikan tinggi memang tak terlalu besar. Hanya 15 persen dari total populasi kampus di Indonesia. Namun, vokasi memang punya potensi yang tinggi. Sebab, vokasi harusnya menjadi pilar untuk mencocokkan antara lulusan lembaga pendidikan dengan kebutuhan industri.
Menurut mantan Direktur Jenderal Vokasi terseubt, link and match antara sektor pendidikan dengan industri dan bisnis memang sudah menjadi PR sejak 1980. Namun, hingga saat ini hal tersebut belum bisa tercapai. Karena itu, pemerintah dan organisasi pengusaha juga fokus untuk pendidikan vokasi beberapa tahun terakhir.
’’Layanan digitalisasi memang berguna untuk memeratakan kualitas pendidikan di Indonesia. Terutama pendidikan vokasi yang sangat berguna bagi masyarakat di daerah terpencil, terluar, dan tertinggal,’’ ujar Endang Kusuma, advisor Sevima yang lain.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Masrokhan membuka mengatakan, vokasi memang menjadi aspek penting dari untuk bisa melahirkan tenaga kerja yang cocok dengan kebutuhan industri.
Karena itu, vokasi memang harus diselaraskan dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Tahun 2015-2035. Di mana, industri perkapalan, elektronika, kimia industri, persepatuan serta tekstil dan produk tekstil yang telah ditetapkan menjadi sektor industri prioritas dalam pembangunan industri nasional.
“Untuk mewujudkan RIPIN Kementerian Perindustrian telah menyusun langkah strategis. Salah satunya mengadakan kelas vokasi untuk lima industri ini,’’ jelasnya. (bil)
Sumber: JawaPos/ M. Salsabil Adn