Generasi Spiritual Nusantara Mendalami Jati Diri Dengan Cara Bersatu Dengan Alam Mulai Dari Leuwi Benjol, Jawa Barat

photo author
Abdul Qodir Majid, Journal Nusantara
- Selasa, 27 Februari 2024 | 18:45 WIB
Gunung Gede (Pexels.com/DeniChandra )
Gunung Gede (Pexels.com/DeniChandra )

Oleh : Jacob Ereste

Generasi Z yang mengklaim satu-satunya generasi yang mampu untuk menyelesaikan masalah generasi hari ini adalah sikap pongah yang gegabah. Generasi lalu dan generasi hari ini serta generasi yang akan datang merupakan satu rangkaian yang tidak mungkin bisa diputus keterikatannya antara generasi yang satu dengan yang lain. Sikap pongah itu mengabaikan generasi masa lalu dan generasi masa depan, telah menjadi kesombongan generasi masa kini, seakan mampu untuk mengatasi berbagai hal yang terjadi kemarin serta masalah yang bisa muncul di masa depan.

Itulah sebabnya Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) yang hadir sejak dua puluhan tahun silam terus mengembangkan wilayah Jelajah dan memperluas habitat dari komunitas yang meneruskan elam vital perjuangan mulia dari GMRI yang ingin melahirkan generasi penerus dari upaya membangun gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual sebagai jalan penuntun hidup agar tidak sampai mabuk hal-hal yang bersifat duniawi. Dan bersama Kamaira, komunitas anak-anak muda yang dimotori Richardo Yohanes bersama Naba Friesty bersama pengurus inti lainnya dengan bimbingan langsung Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu melakukan wisata tracking ke Leuwi Benjol, Gunung Pongkor di kaki Gunung Gede, Senin, 26 Februari 2024, sekaligus untuk melepas penat setelah menyaksikan pesta politik Pemilu 2024 yang gaduh.

Baca Juga: MP3C Soroti Potensi Kelangkaan Beras Jelang Bulan Ramadhan

Lokasi Leuwi Benjol yang bisa ditempuh melalui kawasan Jonggol, cukup mengasikkan untuk melenturkan urat kali yang lebih sering dimanjakan, sehingga mengurangi daya tahan dari gangguan penyakit encok dan asam urat dengan cara berendam di air terjun dari gunung yang cukup dingin.

Jalur treking yang asyik sekitar 4 kilometer dari pos terakhir tempat kendaraan parkir terus mendaki dan menukik menuju lembah Leuwi Benjol dengan suaranya yang bergemuruh, seperti sedang menyanyikan musik asli bumi untuk langit.

Sayangnya harga tiket masuk kawasan wisata alam di Jawa Barat ini belum dikelola secara profesional. "Bagaimana mungkin tarif masuk sebesar Rp 20.000 per orang ini masih dibebani pungutan dari pihak Perhutani sebesar Rp 25.000 per orang. Jadi total untuk setiap kepala dikenakan biaya Rp 45.000 per orang", kata Richardo Yohanes. Besaran tarif masuk segede itu jelas lebih mahal dari harga karcis masuk kawasan Wisata Taman Impian Jaya Ancol, imbuh Nabila Friesty.

Baca Juga: Demokrasi Itu Milik Rakyat Yang Harus Dijaga dan Diperjuangkan

Pungutan resmi yang dilakukan pengelola kawasan wisata alam Leuwi Benjol -- dan sejumlah obyek wisata alam lainnya di Jawa Barat sekitarnya ini -- jelas harus menjadi pertimbangan tersendiri bari Pemerintah Daerah setempat. Setidaknya, hasrat untuk ikut membangun dan membangkitkan kesadaran warga masyarakat untuk mencintai alam dan lingkungan patut menjadi bagian dari pertimbangan. Jangan cuma sekedar diorientasikan kepada nilai-nilai ekonomi semata.

Baca Juga: Wow Daun Pepaya Mengandung Senyawa Quercetin yang Mampu Suburkan ASI

Padahal, kehadiran Generasi Spiritual Untuk Semua yang di gagas komunitas Kamaira bersama GMRI ini merupakan bagian dari upaya hasrat belajar langsung dari alam sebagai ekspresi dari sunnattullah. Setidaknya, harga tiket masuk kawasan wisata Leuwi Benjol yang selangit itu, patut dievaluasi oleh Pemerintah Daerah setempat. Sebab tak semua obyek wisata dapat dipaksakan secara komersial, karena tidak sedikit yang mampu menyedot jumlah pengunjung yang tertarik kepada wisata yang bernilai spiritual. Kumkum, Samedi. Belajar mendengar bisikan alam dalam deru deram dan gemerciknya air yang mengalir tak kunjung habis itu dimuntahkan dari perut bumi.

Belajar menyatukan diri dengan alam dan lingkungan ini -- sebagai basis pelatihan memasuki jagat spiritual -- akan terus berlanjut serta dilaksanakan secara berjenjang. Intinya, kecuali mengasah kepekaan fisik juga mempertajam kepekaan spiritual yang senantiasa berpijak pada tatanan etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai Khalifah di muka bumi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Abdul Qodir Majid

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB
X