Islam pada Masa Khilafah Ali Bin Abi Thalib

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 22 Januari 2024 | 15:35 WIB

 

Oleh : Dewi Kurnia Rahayu dan Erga Tenang Lambang (Mahasiswa Semester 3 STAI Al-Azhary Cianjur)

Dalam khilafah Ali bin Abi Thalib, yang merupakan periode penting dalam sejarah Islam, terdapat berbagai dinamika politik dan sosial yang memengaruhi perkembangan umat. Ali, sebagai pemimpin keempat dalam Khilafah Rasyidah, dihadapkan pada tantangan besar, termasuk konflik internal dan eksternal. Melalui penelitian ini, kita akan mengeksplorasi peran Ali dalam mengelola negara, kebijakan-kebijakan yang diimplementasikannya, serta dampaknya terhadap pembentukan identitas Islam. Dengan memahami masa khilafah Ali secara holistik, kita dapat mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang dinamika sosial dan politik pada periode tersebut serta relevansinya dengan perkembangan Islam selanjutnya.

Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat dan Amirul Mukminin, dikenal sebagai sosok yang berilmu, cerdas, dan taat beragama. Beliau merupakan saudara sepupu Nabi Muhammad SAW, anak dari pamannya, Abu Thalib, dan menantu Nabi SAW setelah menikahi putri Rasulullah bernama Fathimah. Fathimah adalah satu-satunya putri Rasulullah yang memiliki keturunan, dan dari garis keturunan Fathimah itulah keturunan Rasulullah bertahan hingga sekarang.

Ali bin Abi Thalib adalah salah satu dari kalangan anak-anak yang pertama kali memeluk Islam. Sejak kecil, Nabi Muhammad SAW dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib, dan setelah kakeknya wafat, Ali diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Ali membantu dan menolong pamannya sebagai bentuk balas budi, sehingga Nabi SAW mengasuh dan mendidiknya. Kedalaman pengetahuannya dalam agama Islam sangat luas, dan karena kedekatannya dengan Rasulullah, Ali banyak meriwayatkan Hadits Nabi. Keberaniannya terkenal, dan ia selalu berada di barisan depan dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah.

1. Pemilihan Khalifah Ali bin Abi Thalib

Dalam proses pemilihan Khalifah, terdapat perbedaan pendapat yang mencolok antara pemilihan Abu Bakar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib. Pada pemilihan dua Khalifah sebelumnya (Abu Bakar dan Utsman ibn Affan), meskipun awalnya ada beberapa penentangan, setelah pemilihan calon Khalifah dan penegasan statusnya, masyarakat secara umum menerima hasilnya dengan membaiat dan menyatakan kesetiaan. Namun, situasi berbeda terjadi pada pemilihan Ali bin Abi Thalib.

Setelah terbunuhnya Utsman ibn Affan, masyarakat secara massal datang dan membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah. Meskipun proses ini melalui pemilihan dan pertemuan terbuka, situasi saat itu sedang kacau, dengan hanya beberapa tokoh senior Islam yang berada di Madinah. Sehingga, sebagian masyarakat, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan, menolak keabsahan pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah. Meskipun terdapat pro dan kontra, Ali tetap menjadi Khalifah dalam pemerintahan Islam.

Pertentangan terhadap pengangkatan Ali sebagai Khalifah dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah ketidaksetujuan dari golongan kecil, seperti keluarga Umayyah, yang khawatir akan kehilangan kekayaan dan kemewahan mereka akibat kebijakan keadilan yang akan diterapkan oleh Ali. Meski begitu, mayoritas masyarakat menyambut kepemimpinan Ali dengan harapan akan adanya keadilan dan perlindungan dari penderitaan yang mereka alami.

2. Tantangan Selama Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib

Pada masa pemerintahan Ali ibn Abi Thalib, tidaknya kelangsungan konsep kekhalifahan mencuat sebagai permasalahan utama. Pertama, terkait dengan kebuntuan investigasi atas pembunuhan Khalifah Utsman yang masih diselimuti misteri, sehingga pelaku pembunuhan tidak dapat diidentifikasi. Dalam konteks ini, dugaan muncul bahwa kelompok yang terafiliasi dengan Ali mungkin terlibat dalam peristiwa tersebut. Situasi ini kemudian dipolitisir oleh sebagian pihak untuk memperkuat gesekan suku antara Bani Hasyim (yang dipimpin oleh Ali) dan Bani Umayyah (yang terkait dengan Utsman).

Kedua, kelompok elit pemerintahan, terutama dari kalangan Gubernur Syiria, tidak mendukung Ali sebagai Khalifah. Pasalnya, Ali, yang dikenal sebagai sosok alim dan zuhud, tidak sejalan dengan gaya hidup mewah yang diinginkan oleh gubernur-gubernur yang cenderung materialistis. Dengan kata lain, puncak kepemimpinan Ali dianggap merugikan kelompok elit Islam yang memprioritaskan kedudukan dan kekuasaan, sementara rakyat mengidamkan kepemimpinan berkualitas seperti pada masa Khalifah sebelumnya.

Pemerintahan Ali berusaha mengakar pada prinsip-prinsip hukum agama Islam. Upaya ini terlihat saat Ali berkeinginan mengembalikan umat kepada gaya hidup seperti pada masa Rasulullah, di mana orang-orang berusaha dan berjuang semata-mata karena Allah. Fakta sejarah juga mencatat bahwa Ali dianggap sebagai pemuda cerdas, berani, dan memiliki pengetahuan agama yang mendalam. Dengan pemahaman mendalam tentang agama Islam, langkah pertama Ali sebagai Khalifah termasuk mengganti seluruh Gubernur/wali-wali daerah yang sebelumnya diangkat oleh Utsman dengan cara nepotisme. Ali juga mencabut berbagai fasilitas yang sebelumnya diberikan oleh Utsman pada keluarganya, karena hal tersebut dianggap melanggar prinsip keadilan yang dianjurkan oleh ajaran agama.

Sementara itu, sejak awal proses pemilihan, pembai'atan, hingga Ali menjabat sebagai Khalifah, dia terus menghadapi situasi politik yang kompleks karena serangan dari berbagai pihak yang bertujuan menggulingkan kekhalifahan Ali. Pihak-pihak yang merongrong kekhalifahan Ali memiliki beberapa alasan, di antaranya :

1. Sebagian kelompok muslim menganggap bahwa menyerahkan kepemimpinan Khalifah kepada Ali akan secara otomatis mewariskannya kepada Bani Hasyim secara turun-temurun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X