Oleh: Imam Shamsi Ali
Beberapa hari lalu saya hampir kecewa membaca kutipan berita di media massa jika KPU akan meniadakan debat capres-cawapres. Ternyata kutipan itu tidak sempurna dan kurang akurat. Belakangan saya pahami bahwa KPU hanya merubah formatnya dengan mengurangi porsi debat langsung (direct encounter) di antara calon, khususnya dalam debat antara cawapres.
Membaca itu saya agak legah. Walaupun sesungguhnya saya justeru berharap agar KPU mencari format yang kira-kira akan lebih membuka secara transparan “siapa dan apa” para calon itu. Debat dapat membuka realita “siapa dan apa”para capres yang mencakup ide, pikiran, pemahaman, wawasan, hingga kepada karakter kepribadian. Termasuk di dalamnya kemampuan mengendalikan emosi seraya menata “self confidence”para calon.
Dengan debat juga para konstituen (pemilih) dapat mengukur kepintaran, kedewasaan (bukan umur), dan yang terpenting sisi “tablig” atau kemampuan komunkasi dari masing-masing calon. Sekali lagi, skill komunikasi penting bagi pemimpin karena harus mampu menyampaikan ide-ide, baik kepada rakyat sendiri, terlebih lagi kepada dunia global.
Intinya saya ingin menekankan bahwa debat ini menjadi penting bagi proses demokrasi yang sehat ke depan. Kita tidak ingin seperti ungkapan lama “membeli ayam dalam karung”. Karenanya ke depan, bukan hanya debat capres-capres. Tapi juga perlu diadakan debat antar caleg di semua lapisan.
Pembacaan doa diganti dengan Hening Cipta
Selasa 12 Desember kemarin telah dilangsungkan acara debat pertama para capres. Walaupun saat itu di kota New York adalah jam kerja, saya sengajakan menonton secara virtual dari awal hingga akhir. Tentu dengan semangat yang tidak kurang dari semangat saudara-saudara sebangsa di manapun berada.
Saya menilai secara umum semua pelaksanaan acara debat berjalan baik. Disiarkan secara live, baik melalui media sosial maupun mainstream. Bahkan di beberapa tempat diadakan acara nobar debat. Menunjukkan bahwa masyarakat sesungguhnya punya perhatian dan harapan besar dengan pemilu dan proses demokrasi di tanah air.
Hal kecil yang menjadi catatan saya di acara pembukaan debat adalah perubahan tradisi pembacaan doa yang biasanya dipimpin oleh seorang tokoh agama. Saya masih ingat karena saya hadir di debat terakhir tahun 2019 lalu yang membaca doa adalah Ust. Nazaruddin Umar. Kali ini hanya semacam hening cipta dan dipimpin langsung oleh Ketua KPU.
Saya sempat mempertanyakan hal ini. Sebab bagi saya doa itu tidak saja kebiasaan acara-acara resmi kenegaraan, bahkan di Istana dan gedung MPR/DPR. Tapi sekaligus menjadi aktualisasi dari karakter negara yang berketuhanan yang maha esa. Peniadaan doa ini terasa memaksa saya berpikiran “jangan-jangan ada pihak yang khawatir dengan ucapan AMIN menggema di acara itu”.
Perkiraan saya itu terbukti karena di akhir hening cipta yang diakui sebagai doa itu, Ketua KPU yang memimpin bukannya mengucapkan “amin”. Tapi dengan kata-kata persis yang biasa disebut di akhir hening cipta: “doa selesai”.
Apapun itu, di saat-saat seperti ini, di mana segala sesuatu bisa memiliki makna dan tujuan, harusnya pembacaan doa tetap diadakan. Doa dengan permohonan khusus agar debat itu lancar. Dan yang terpenting agar pemilu berjalan aman, damai, jujur dan menghasilkan pemimpin yang diharapkan oleh bangsa dan negara ke depan. Lalu diucapkan “amin” dengan jelas.
Statemen pembuka para capres
Pada tulisan ini saya hanya menyampaikan tentang isi dari penyampaian visi misi dari masing-masing capres dan pengamatan says tentang penyampaian itu. Pada tulisan selanjutnya akan saya sampaikan secara lebih rinci isi dan situasi debat yang terjadi, khususnya ketika para capres terlibat dalam direct encounter (debat langsung).
Yang pertama tampil adalah capres dengan no. urut 1, Dr. Anies Rasyid Baswedan. Anies hadir di acara debat itu didampingi pasangan cawapresnya, Dr. Muhaimin Iskandar. Tapi yang lebih penting juga didampingi oleh pasangan hidupnya, Ibu Ferry Farhati, MA.
Artikel Terkait
Membangun Kearifan Lokal : Pemberdayaan Masyarakat Desa di Kelurahan Ciwalen Garut
Pantauan Libur Nataru Daerah Puncak Cianjur dan Bogor
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Budidaya Lele Untuk Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat di Kelurahan Babakan Surabaya Bandung
Pemberdayaan Masyarakat Desa melalui Pembangunan Jalan Layang (Flyover) di Cisauk Kabupaten Tangerang
Pemberdayaan Masyarakat Desa Samoja Kota Bandung: Menelusuri Langkah-Langkah Positif dalam Pengembangan Lokal
Kampung Enam Rumah Balemalang : Simbol Kebersamaan di Tengah Modernisasi
Asep Sopyan Halim Ungkap Pentingnya Keterwakilan Putra Daerah di Gedung Senayan
Renungan Akhir Tahun Bersama Markenun
Pemberdayaan EKonomi Masyarakat Desa Melalui Objek Wisata Pokland
Nia Rohania Berikan Apresiasi Positif Kegiatan Vocal Contest 2 Cianjur