Selain itu, banyak sekali tradisi pra-Islam yang kemudian dikonversi oleh Walisongo menjadi tradisi Islami yang sampai saat ini ada di Indonesia dan menjadikan Islam mengakar dan kuat.
Intinya, Islam–khususnya NU–tidak serta merta mengutuk bungkus, namun yang lebih penting dari itu adalah isi dan substansi.
Baca Juga: Fix! 2024 Ibu Kota Negara Resmi Pindah ke Kalimantan Timur
Pun demikian Hari Valentine. Jika kemudian santri dan generasi Islam zaman now mampu mengubah isinya menjadi hal yang positif, inspiratif, konstruktif, bukankah itu lebih hebat dampaknya dari sekadar fatwa? Dan, sanggupkah generasi yang mengaku penerus Walisongo melakukannya?
*) Penulis adalah santri, kader muda NU, tinggal di Purworejo, Jawa Tengah.
Artikel Terkait
Mengenal Natasya Priyanka, Puteri Indonesia Kalimantan Timur 2023
Seminar Transformasi Jurnalis Jadi Pengusaha Media
DKPP Tegaskan Bakal Periksa Anggota KPU RI Terkait Verifikasi Partai Politik dan Dugaan Ancaman Kepada Penyele
Fix! 2024 Ibu Kota Negara Resmi Pindah ke Kalimantan Timur
Perjalanan 100 Tahun
Gila! Tak Puas di Ranjang, Kebiasaan Aneh Ibu Muda Jambi Akhirnya Terbongkar
DPRD Cianjur Sinergi dengan Masa Aksi, Sepakati Tiga Tuntutan Korban Gempa dan Awasi Pelaksanaannya !
Peringatan HPN, PWI Cianjur Gelar Berbagai Kegiatan
Geger! Kepala Sekolah Madrasah Perkosa Siswinya di Ruang Kerja
Menggali Hikmah dari Islamophobia