Oleh: Ayi Mamduh
KH. Adib Rofi’uddin Izza (biasa disapa Kiai Adib) merupakan salah satu ulama kharismatik, sesepuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon, sekaligus tokoh sentral yang memiliki rekam jejak khidmah sangat panjang di struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengenang beliau sebagai figur kiai yang telah "mewakafkan dirinya secara penuh untuk jam'iyyah (organisasi) dan jamaah (umat)".
Komitmen mulia ini tetap beliau tunjukkan dengan istiqomah, bahkan saat kondisi fisiknya tengah berjuang melawan sakit hingga akhir hayatnya. Berikut adalah rincian peran, kiprah, dan khidmah monumental KH. Adib Rofi’uddin Izza terhadap Nahdlatul Ulama:
1. Khidmah di Struktur Tertinggi PBNU
Beliau dipercaya menempati posisi-posisi strategis penentu arah kebijakan keagamaan dan organisasi NU selama lintas periode kepengurusan:Rais Syuriyah PBNU (Periode 2004–2015): Menjadi salah satu jajaran ulama yang mengawal fatwa, hukum Islam (bahtsul masail), serta arah spiritual organisasi.
Mustasyar PBNU (Periode 2015–2021): Duduk di dewan penasihat yang memberikan pertimbangan-pertimbangan strategis bagi jalannya roda organisasi.
Rais Syuriyah PBNU (Periode 2022–2027): Kembali dipercaya memperkuat jajaran Syuriyah di bawah kepemimpinan Rais Aam KH. Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH. Yahya Cholil Staquf.
2. Dedikasi Total sebagai "Pelayan para Kiai"
Selama mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah, Kiai Adib dikenal memegang prinsip khidmah yang sangat rendah hati. Beliau selalu menekankan bahwa niat utama kedatangannya ke PBNU dan keikutsertaannya dalam rapat-rapat organisasi adalah untuk melayani para kiai sepuh lainnya serta menjaga marwah keulamaan.
3. Jembatan Strategis Pesantren dan Umara (Pemerintah)
Sebagai pimpinan salah satu pesantren tertua di Indonesia (Buntet Pesantren), Kiai Adib memainkan peran krusial sebagai simpul penghubung tradisi pesantren dan jajaran elite nasional.
Ia adalah tokoh yang sangat dihormati oleh berbagai kalangan pemimpin bangsa karena pandangan keagamaannya yang moderat (tawassuth) dan nasionalis, mencerminkan nilai dasar dasar Hubbul Wathan minal Iman (cinta tanah air sebagian dari iman) khas NU.
4. Penguatan Dakwah Konvensional dan Pembimbing Umat