Oleh: Agung Wibawanto
Polisi itu kata seorang warganet adalah makhluk yang merasa paling kuat di Konoha, padahal gak ada apa-apanya dibanding Damkar. Ya, damkar kini adalah institusi yang selalu dinanti kedatangannya oleh warga yang butuh bantuan. Lembaga yang selalu menjadi rujukan mengatasi masalah karena tanpa ribet.
Mulai dari korslet listrik, ular masuk rumah, mobil terbalik, anak kecil kejepit pagar, mengambil rapot hingga putus cinta, mereka selalu dan dijamin hadir. Cukup dengan kata-kata "Tolong saya", maka Damkar tanpa pikir panjang, tanpa administrasi birokrasi berbelit, langsung berangkat ke lokasi.
Adakah aparat atau petugas lain yang begitu dicintai warga selain Damkar? Silahkan anda bandingkan dengan lembaga kepolisian atau anggota polisi. Kehadiran mereka justru membuat resah orang. Entah mengapa. Ini psikologis yang memang sulit dihilangkan. Mungkin juga adanya memori buruk atas citra polisi.
Sebelum bertemu atau berurusan dengan polisi, yang ada dalam bayangan kita adalah birokratis, ditanya-tanya bahkan serasa diintograsi dan dicurigai. Belum lagi bayangan dimintai biaya, waktu terbuang banyak, rasa tertekan dan deg-deg an. Entah mengapa tapi ya begitu. Segala sesuatu diurus di kantor (pos polisi).
Tingkat arogansi polisi tinggi saat berhadapan dengan masyarakat. Seolah mereka lah ras terkuat terhebat di negeri ini sementara rakyat hanya remahan rengginang yang gampang diintimidasi, digertak, diinjak-injak untuk mau patuh dengan permintaan mereka. Rakyat dalam keadaan terdesak mau tidak mau menuruti keinginan polisi (bayar).
Padahal, polisi sudah mendapat banyak dari negara maupun lingkungan masyarakat (sosial). Dari negara mereka mendapat fasilitas gaji plus tunjangan. Rumah gratis, listrik gratis, BBM gratis dan masih banyak lagi. Masyarakat juga menaruh status sosial yang cukup tinggi kepada polisi.
Mau tau sebenarnya layanan VIP dari negara kepada polisi itu dananya dari mana? Berasal dari pajak rakyat. Pajak rakyat yang meski dianggap kecil tapi banyak jenisnya itu terkumpul di seluruh Nusantara kemudian diberikan untuk melayani polisi. Itu pengorbanan yang diberikan masyarakat kepada polisi.
Lalu bagaimana polisi hadir dan bisa manfaat di tengah masyarakat? Pada kebanyakan, mereka hadir untuk meminta-minta (malak jatah keamanan) yang pasti dibayar, bukan keikhlasan (padahal mereka sudah digaji negara). Setidaknya uang rokok dan kopi pasti ada. Datang ke mana pun itu berarti sebuah "kode" upeti.
Mereka menangkap penjahat seperti maling, adu ayam, kecelakaan, pembunuhan, apakah masyarakat mau menjadi saksi dan melapor? Tekanan atau beban pikiran jauh lebih banyak mendera setiap siapa saja yang datang ke kantor polisi. Harus siap mental dan biaya. Belum lagi waktu yang tersita.
Pun, banyak laporan yang tidak segera ditindaklanjuti dengan banyak alasan. Misal, kurang personil, waktu istirahat, tidak ada biaya operasional, berkas laporan tidak lengkap dll. Mengapa tidak responsif seperti Damkar yang tidak bertele-tele langsung berangkat? Karena polisi di bawah sadarnya sudah menempatkan diri lebih tinggi daripada warga.
Saya polisi, saya orang penting dan kalian lebih membutuhkan polisi ketimbang sebaliknya. Pikiran seperti itu yang membuat jajaran kepolisian tidak patuh kepada masyarakat. Karena seharusnya tugas mereka adalah mengayomi dan melindungi masyarakat. Polisi harus menjadi pelayanan masyarakat bukan sok jadi bos nya warga.
Polisi itu ibarat preman kampung yang beraninya main keroyokan. Mereka tampak banyak di jalanan di saat musim razia. Setelah berlalu, tidak satupun polisi tampak stand by di jalanan. Mereka tampak seperti rakus mengejar target hingga perlu mencari-cari kesalahan setelah kendaraan dihentikan. Warga merasa nyaman? Tidak sama sekali.
Bikin males dan sakit perut. Bahkan saat alat kelengkapan kendaraan yang dibawa lengkap sekalipun, kita malas lewat jalan yang ada razianya. Trauma. Kini polisi bahkan lebih ngawur merazia kendaraan berhenti alias sedang parkir atau terdiam tidak dikendarai. Ini menyalahi prosedur. Razia hanya kepada pemgendara yang sedang berkendara.
Logikanya, kendaraan tidak terbukti sedang digunakan ataupun sedang berkendara di jalanan. Seperti kendaraan yang tengah mogok ataupun memang tidak digunakan karena kurang alat kelengkapannya. Lha wong kendaraan sedang di bengkel pasti dipereteli tidak mungkin lengkap. Kelak apa sepeda juga akan dirazia saat di jalanan?