Cerita Prabowo Subianto Perihal Ikhlas dalam Berjuang

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 14 Juni 2023 | 18:34 WIB
Prabowo Subianto kala masih muda
Prabowo Subianto kala masih muda

Journalnusantara.com - Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menceritakan pengalaman pribadinya saat masih muda, yaitu ketika berteman dengan Djoko Santoso.

"Pada kesempatan kali ini, saya ingin bercerita mengenai pribadi yang banyak mengajarkan saya tentang kepemimpinan, tentang keikhlasan dalam perjuangan, dan sepenuhnya mewakafkan dirinya untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia," katanya dilansir dari media sosial pribadinya.

"Beliau merupakan Alm. Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso," terang Prabowo.

Ia mengatakan bahwa Pak Djoko menjadi wakilnya di Batalyon Infanteri 328 sewaktu ia menjadi Danyon.

"Pak Djoko Santoso ini orang yang sangat cerdas. Seorang pekerja keras. Ia sangat teliti dalam pekerjaan, dan ia bekerja sangat lengkap. Sehingga waktu itu saya menganggap dia itu pasangan ideal," bebernya.

Ia menyampaikan, waktu jadi Danyon, dan Djoko Wadanyon, mereka berhasil membawa Batalyon 328 ke suatu titik yang cukup membanggakan. Batalyon yang berprestasi di daerah operasi dan berprestasi di daerah basis.

Baca Juga: Anies Baswedan Peduli Penyandang Diabilitas

"Batalyon yang unggul dalam ilmu-ilmu kemiliteran. Batalyon yang memiliki disiplin yang kuat, jiwa korsa yang kuat, jumlah desersi yang hampir tidak ada dan seterusnya," ujar Dia.

Ia bersyukur dalam perjalanan kariernya Pak Djoko Santoso yang pernah jadi wakil, ternyata melebihinya dalam karier militer.

"Beliau mencapai Jenderal bintang 4 dan mencapai jabatan KASAD, dan bahkan jabatan tertinggi dalam TNI yaitu sebagai Panglima TNI," terang Dia.

Menurutnya, selama itu ia tidak pernah sombong. Setiap naik pangkat, walaupun dirinya sudah pensiun, Djoko minta waktu menghadap untuk melaporkan dia naik pangkat.

"Suatu saat dia menjadi KASAD bintang 4, dia minta waktu ketemu saya. Saya tolak. Saya sampaikan, jangan kasih tahu Pak Djoko dia bintang 4 dan saya bintang 3. Biar saya yang datang ke beliau," bebernya.

Dirinya menambahkan, saat itu beliau tetap menolak. Beliau memandangnya sebagai seniornya, memandang sebagai mantan komandannya, dan memandang sebagai gurunya sehingga pada setiap keberhasilan beliau tetap datang untuk memberi hormat kepada saya.

"Saya terharu atas sikap beliau. Sampai suatu saat kita saling ngotot. Beliau mau datang saya tolak, saya yang mau datang beliau tolak. Akhirnya kita kompromi, kita ketemu di sebuah restoran," imbuhnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X