Aksi Sujud Bupati Nias Utara, Jeritan Hati dari Beranda Terluar Indonesia

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 11 Maret 2026 | 04:35 WIB
Bupati Nias Utara temui Mendes PDT. Jalan rusak, desa gelap, blank spot jadi sorotan. Ini janji negara untuk Nias Utara. (Dok. Kemendesa.go.id)
Bupati Nias Utara temui Mendes PDT. Jalan rusak, desa gelap, blank spot jadi sorotan. Ini janji negara untuk Nias Utara. (Dok. Kemendesa.go.id)

JOURNALNUSANTARA.COM, JAKARTA — Sebuah momen emosional mewarnai rapat koordinasi percepatan pembangunan daerah tertinggal di Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Rabu (25/2/2026).

Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu, tertangkap kamera bersujud di hadapan sejumlah pejabat pusat sebagai bentuk permohonan tulus atas nasib 30 kabupaten tertinggal yang hingga kini masih bergelut dengan kemiskinan ekstrem dan keterbatasan infrastruktur dasar.

Dalam pertemuan tersebut, Amizaro yang didapuk sebagai koordinator bagi 30 kabupaten tertinggal di Indonesia, menyampaikan orasi yang menggetarkan ruang rapat.

Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan kelelahan kolektif masyarakat di daerah tertinggal (3T) yang seolah terlupakan dalam derap pembangunan nasional.

"Pak Menteri, Pak Gubernur, dan Bapak-Ibu semuanya, kami ini sudah capek miskin. Capek miskin kami," ungkapnya di hadapan para hadirin.

Amizaro menyoroti ketimpangan yang kian lebar antara pembangunan di Pulau Jawa dengan wilayah terluar.

Menurutnya, saat daerah-daerah maju di Jawa sudah mulai mendiskusikan implementasi kecerdasan buatan (AI), pusat perbelanjaan modern, hingga jaringan jalan tol, wilayah seperti Nias Utara masih harus berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar.

Ia menekankan bahwa setelah 80 tahun Indonesia merdeka, masih banyak warganya yang belum menikmati akses listrik dan internet, serta masih tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Puncak dari kegelisahan tersebut terjadi saat Amizaro secara tiba-tiba turun dari samping podium dan bersujud. Aksi ini bukan sekadar teatrikal, melainkan sebuah simbol penghambaan seorang kepala daerah demi martabat rakyatnya.

Dalam posisi sujud, ia kembali menegaskan bahwa masyarakat di daerah 3T sangat membutuhkan perhatian nyata dari pemerintah pusat agar kemerdekaan yang sesungguhnya dapat dirasakan secara merata hingga ke ujung pelosok negeri.

Selain memohon bantuan pembangunan, Amizaro juga menitipkan harapan besar untuk dapat bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.

Dia merasa suara dari daerah tertinggal harus sampai ke telinga pemimpin tertinggi agar kebijakan yang diambil benar-benar menjawab realitas di lapangan.

Ia mengakui keterbatasan kekuatan daerah dalam "bertarung" memperebutkan anggaran, sehingga akses langsung ke pusat kekuasaan menjadi harapan terakhir bagi keberlangsungan pembangunan di wilayahnya.

Aksi sujud ini menjadi pengingat bagi publik dan pembuat kebijakan bahwa di balik kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi nasional, masih ada kantong-kantong wilayah yang berjuang keluar dari kegelapan malam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X