Muhammadiyah: Menggunakan metode Hisab (perhitungan matematis dan astronomis).
Kemenag & NU: Menggunakan metode Rukyatul Hilal, yaitu pemantauan langsung terhadap hilal (bulan sabit muda) di berbagai titik di Indonesia.
Hasil pengamatan lapangan tersebut nantinya akan dibawa ke dalam Sidang Isbat.
Sidang inilah yang menjadi keputusan final bagi Pemerintah untuk mengumumkan kepada masyarakat kapan secara resmi kita mulai menunaikan ibadah puasa.
Baca Juga: Tips Ampuh Menjaga Keamanan Pangan Agar Terhindar Dari Bahaya Makanan Basi
Mengapa Bisa Berbeda?
Perbedaan ini adalah hal yang lumrah terjadi di Indonesia karena adanya keberagaman metode dalam menafsirkan kemunculan hilal.
Namun, tujuan utamanya tetap sama, yaitu menyambut bulan suci dengan penuh kekhusyukan.
Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga toleransi jika nantinya terdapat selisih hari dalam memulai puasa. ***
Artikel Terkait
Ini Link dan Cara Daftar Antrean Online Pasar Jaya 2026, Simak Syaratnya
Cara Mudah Cek Bansos PKH dan BPNT 2026 Online, Cukup Gunakan NIK KTP Anda