JOURNALNUSANTARA.COM, JAKARTA - Di tengah perkembangan media digital dan budaya populer, beauty pageant tidak lagi sekadar ajang adu kecantikan fisik. Lebih dari itu, beauty pageant menjadi ruang komunikasi dan ekspresi identitas perempuan.
Salah satunya tercermin dalam ajang Miss Bintang Indonesia yang menghadirkan perempuan dari berbagai latar belakang daerah dan usia. Pada perspektif komunikasi budaya, beauty pageant dapat dipahami sebagai media representasi nilai sosial. Peserta tidak hanya tampil dengan busana dan tata rias, tetapi juga membawa narasi tentang kepercayaan diri, karakter, serta peran perempuan di ruang publik.
Miss Bintang Indonesia hadir sebagai wadah yang mendorong perempuan untuk mengembangkan potensi diri, mulai dari kemampuan komunikasi, public speaking, hingga kepedulian sosial, serta penguatan dalam Brain, Beauty, Brave, dan Behavior.
Lebih lanjut ajang ini juga membuka ruang partisipasi bagi berbagai latar belakang, sehingga memperlihatkan keberagaman ekspresi perempuan Indonesia dalam satu panggung budaya populer.
“Ajang ini kami rancang bukan semata-mata tentang penampilan, tetapi sebagai ruang pembelajaran dan ruang komunikasi publik bagi perempuan. Kami ingin peserta mampu menyampaikan gagasan, nilai, dan karakter positif yang berdampak kepada masyarakat,” ujar Taufik Sanjaya, M. Pd., CHCO., pendiri Miss Bintang Indonesia.
Seiring meningkatnya peran media sosial, beauty pageant juga bertransformasi menjadi sarana personal branding. Peserta dituntut mampu membangun citra diri yang autentik, beretika, dan relevan dengan nilai sosial. Hal ini menjadikan ajang Miss Bintang Indonesia sebagai bagian dari ekosistem media dan budaya populer yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pada kajian budaya populer, fenomena ini menunjukkan bahwa representasi perempuan tidak lagi bersifat pasif. Perempuan tampil sebagai subjek komunikasi yang aktif, menyampaikan pesan tentang pemberdayaan, keberanian, dan kontribusi sosial melalui berbagai platform media.
Menurut Akademisi bidang fashion Universitas Pendidikan Indonesia Dr. Asri Wibawa Sakti, S. Pd., M. Pd., transformasi ini menunjukkan adanya pergeseran pola
komunikasi.
“Kompetisi Miss Bintang Indonesia tidak hanya menilai pada penampilan luar semata namun menjadi ruang pembelajaran yang menumbuhkan kepercayaan diri, kecakapan komunikasi baik langsung maupun komunikasi tidak langsung, etika sosial dan menjadi representasi perempuan di era budaya populer ruang public sehingga lebih bijak dalam menggunakan sosial media,” ujarnya.
Keberadaan Miss Bintang Indonesia memperlihatkan bahwa beauty pageant masih memiliki relevansi di tengah masyarakat modern, selama mampu mengakomodasi nilai-nilai edukatif, dan kesadaran sosial.
Lebih jauh tentunya ajang ini menjadi contoh bagaimana budaya populer dapat berfungsi sebagai ruang dialog antara individu, media, dan masyarakat luas.
Artikel Terkait
MBG dan Korupsi: Mengawal Program dengan Transparansi
Mutiara Pagi: Muhasabah Diri (Bagian 2084)
Sampah di Jalanan Tangsel: Ketika Kolaborasi Antaraktor Terhambat dan Tata Kelola Kehilangan Arah
Pasar Murah Hari Desa Nasional 2026 di Boyolali Hadirkan Sembako Terjangkau dan Lele Gratis
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Memperbanyak Taubat untuk Meraih Ampunan di Bulan Rajab (Bagian 21)
MBG di Cianjur: Dapur Tanpa Izin, Makanan Bermasalah, dan Negara yang Datang Belakangan
Mutiara Pagi: Terus Berbenah (Bagian 2085)
Dari High Heels ke Apron: Narasi Career Woman To Housewife
Ritual “Self Reward” atau Jebakan Hasrat?
Tiga Kandidat Siap Berebut Kursi Ketua PC PMII Cianjur dalam Konfercab XXII