Tragedi KMP Tampomas II: Neraka 40 Jam di Laut Jawa, Ratusan Jiwa Melayang

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 22 Juni 2025 | 17:00 WIB
KMP Tampomas II dalam kondisi terbakar di Perairan Masalembo, pada Senin, 26 Januari 1981. (Facebook Tantrayana/buku Neraka di Laut Jawa, Tampomas II (1981))
KMP Tampomas II dalam kondisi terbakar di Perairan Masalembo, pada Senin, 26 Januari 1981. (Facebook Tantrayana/buku Neraka di Laut Jawa, Tampomas II (1981))

Journalnusantara.com, Masalembo – Sebuah tragedi maritim mengerikan mengguncang Indonesia pada awal tahun 1981, ketika Kapal Motor Penumpang (KMP) Tampomas II terbakar dan tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa.

Insiden ini, yang berlangsung selama lebih dari 40 jam, menelan ratusan korban jiwa dan menjadi salah satu kecelakaan kapal paling mematikan dalam sejarah transportasi laut Indonesia.

KMP Tampomas II bertolak dari Dermaga Tanjung Priok, Jakarta, pada Sabtu, 24 Januari 1981 pukul 19.00 WIB, dengan tujuan Ujungpandang (kini Makassar). Kapal ini mengangkut 2.174 penumpang yang terdaftar di manifest, ditambah 107 awak kapal.

Selain itu, KMP Tampomas II juga membawa muatan besar berupa 191 unit mobil, sekitar 200 sepeda motor, dan beberapa mesin giling.

Api Membara di Tengah Badai

Musibah dimulai pada malam 25 Januari, sekitar pukul 20.00 WITA. Dalam kondisi badai laut yang tinggi, beberapa bagian mesin kapal dilaporkan mengalami kebocoran bahan bakar.

Diduga kuat, percikan api berasal dari puntung rokok yang masuk melalui ventilasi, kemudian dengan cepat membesar. Para kru kapal segera berupaya memadamkan api menggunakan tabung pemadam portabel, namun upaya tersebut gagal menghentikan jilatan api yang semakin menjalar.

Api dengan cepat merambat ke kompartemen mesin karena pintu dek yang terbuka, menyambar timbunan pelumas.

Banyaknya mobil yang terbakar di dalam kapal mempercepat penyebaran api, membuat KMP Tampomas II terbakar hebat.

Kepanikan di Tengah Laut

Situasi semakin mencekam ketika bodi kapal yang terbuat dari besi mulai memanas. Para penumpang dilanda kepanikan luar biasa. Mereka berebut mencari apa pun yang bisa digunakan sebagai pijakan, seperti potongan kayu.

Sebagian penumpang yang panik nekad terjun ke laut, sementara jumlah sekoci penyelamat tidak sebanding dengan banyaknya penumpang yang harus dievakuasi.

Kapal-kapal lain yang melintas di sekitar lokasi berupaya memberikan pertolongan dengan berbagai cara, termasuk melemparkan tali dan jaring.

Namun, gelombang tinggi menjadi kendala besar untuk mendekat, dikhawatirkan malah akan mengakibatkan benturan yang lebih parah. KMP Tampomas II semakin miring hingga 40 derajat, menyebabkan longsoran penumpang yang berjatuhan ke laut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X