Ada gaya hidup para pengecut
Cukup memanfaatkan para pengikut
Ketika badai datang
Mereka segera menghilang
Tak ingin tangannya kotor
Tak perlu ikut bertempur
Hanya perlu orang lain percaya
Untuk mengikuti semua perintahnya
Sebuah seni kejahatan
Dengan cara meminjam tangan
Sementara aktor utamanya
Cukup duduk manis di singgasana
Yang sangat menggelikan
Bukan siapa yang memenangkan
Tapi saat pion-pion saling menghancurkan
Ia pun menyeruput kopi sambil dangdutan
Dengan taktik yang licik
Sengaja diciptakan sejumlah konflik
Dengan cara menghujat di ruang publik
Namun tampilan seperti orang yang baik
Lalu dengan gagah ia menuding
Orang lain sebagai sumber masalah
Padahal tak ubahnya maling teriak maling
Menggambarkan seseorang yang haus darah
Malang, 21 Juni 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Tafsir tentang Mawar (Bagian 1876)
Batam Aero Technic (BAT): Ambisi Menjadi Bengkel Pesawat Terbesar di Dunia
Insiden Gunung Galunggung, Kisah Heroik British Airways di Langit Indonesia
Menjaga Kemitraan Strategis, Dinamika Hubungan Indonesia–Rusia di Era Global
Mutiara Pagi: Sebuah Refleksi (Bagian 1877)
Rusia, Mitra Dagang Strategis Indonesia di Tengah Dinamika Global
Manusia Adalah Pohon, Menemukan Akar dan Makna Kehidupan
Hujan Lebih dari Sekadar Tetesan Air, Sebuah Potensi Kehidupan
Menciptakan Oasis di Tengah Panas, Rahasia Rumah Sejuk dan Adem
Sawala Perdana Dewan Kebudayaan Sunda Jabar, Sinergi Pelestarian Budaya Lokal