Keindahan mawar yang paling hakiki,
justru hidup di balik durinya
Begitulah Rumi memaknai
Tentang mawar yang dilihatnya
Rumi hendak berpesan
Bahwa keindahan sejati
Bukan yang tampak di permukaan
Tapi cinta dan luka di hati
Yang berjalan secara beriringan
Janganlah engkau hanya mencintainya,
hanya karena keindahannya
Tanpa memahami hakikatnya,
tentang duri-duri yang dimilikinya
Begitulah Al-Ghazali mengingatkan
tentang mawar yang penuh keindahan
Al-Ghazali hendak berpesan
Keindahan yang sejati
Adalah menerima semua sisi
Baik dan buruknya
Kelebihan dan kekurangannya
Khalil Gibran menegaskan
Jika engkau mencintai mawar,
maka harus menerima durinya
Bukan hanya mengagumi mawar
Tapi menghindari duri-durinya
Gibran hendak berpesan
Jangan berkata setia
Jika hanya mencintai kesenangan
Tidak mau menerima luka
Justru pergi ketika orang lain kesusahan
Malang, 19 Juni 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mitos Kelangkaan Berlian: Mengungkap Strategi di Balik Kilau Harga
Menanam Cabai di Rumah, Hobi Menyenangkan dan Hasil Menguntungkan
Makan Enak Tapi Tetap Harus Menjaga Asupan Gizi Kunci Hidup Sehat
Mutiara Pagi: Dengan Pagi (Bagian 1874)
Mutiara Pagi: Pemuja Diri Sendiri (Bagian 1875)
Kebenaran yang Terperangkap dalam Gema Kemenangan
Etika Islam Menjaga Keseimbangan Ekosistem Alam dan Lingkungan
Naratas Jalan Lawas: Antara Romantika Akar dan Ironi Bangsa yang Lupa Diri
Kerinduan Tak Terbendung pada Rasulullah SAW, Refleksi Ziarah Menurut Mbah Moen dan Dalilnya
STISNU Cianjur: Kuliah Asyik Tanpa Panik Biaya, Siap Cetak Generasi Unggul